Friday , May 26 2017
Home / Nasional / Mengurai Kemacetan di Jalan Tol, Awal Menuju Masyarakat Nontunai Cashless Dulu, lalu Gateless
INI e-Toll: Seorang penjual kartu e-toll memperlihatkan kartu e toll di salah satu gerbang tol, baru baru ini.

Mengurai Kemacetan di Jalan Tol, Awal Menuju Masyarakat Nontunai Cashless Dulu, lalu Gateless

darikita.com, Kemacetan panjang di jalan tol saat libur panjang bukanlah pemandangan asing. Upaya menambah ruas, memperluas jalan, hingga memperbanyak gardu tol belum cukup ampuh mengurai kemacetan. Simpul terakhir, membuat sistem pembayaran nontunai di gerbang tol.

MULAI Oktober, pemerintah memberlakukan transaksi elektronik di seluruh jalan tol. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna menyatakan, sebelum berlaku di seluruh ruas tol Oktober nanti, sistem pembayaran full cashless itu diujicobakan.

Ada dua ruas tol yang dijadikan model. Yakni, tol Waru-Juanda di Jawa Timur dan tol Jakarta-Cikampek, Cikopo-Palimanan, Cipularang, dan Purbaleunyi atau biasa disebut ruas tol Cluster 1 di Jawa Barat. ”Untuk Waru-Juanda sudah berlaku hampir sebulan. Cluster 1 akan mulai diberlakukan Juni,” jelas dia saat ditemui di kantornya baru-baru ini.

Soal teknologi yang diterapkan, Herry mengakui memang masih tertinggal dengan negara-negara lain yang sudah menerapkan cashless untuk pembayaran tol. ”Kalau bicara Malaysia, mereka memang baru menerapkan full cashless bulan ini. Tapi, mereka mengejarnya secara alami. Bertahap. Kalau kita dipaksa, waktu mepet harus bisa,” tuturnya.

Herry lalu membandingkannya dengan teknologi yang sudah diterapkan di negara-negara lain. Dia mengungkapkan, Taiwan menggunakan teknologi radio-frequency identification (RFID), sedangkan Hungaria, Bulgaria, dan Jerman menggunakan satelit. Lalu, kebanyakan negara Eropa lainnya menggunakan dedicated short range communications (DCRC). ”Dengan teknologi itu, mereka tidak hanya cashless, tapi juga gateless,” ucap dia.

Ke depan teknologi seperti itu juga diterapkan di Indonesia. Setelah cashless diterapkan 2017, gateless ditargetkan berlaku pada 2018. Di antara tiga teknologi tersebut, RFID paling ideal dan memungkinkan diterapkan di Indonesia. Harganya terjangkau serta pengoperasiannya mudah dan sangat cocok diterapkan di Indonesia. ”Alat on board RFID untuk ditaruh di kendaraan itu harganya murah, sekitar USD 1. Untuk DSRC USD 35 dan untuk alat GPS satelit butuh USD 350. RFID paling ideal, terjangkau,” tambahnya.

Comments

comments

Check Also

Dorong Pembangunan Kawasan Metropolitan Cirebon Raya DPRD Jawa Barat Sadari Potensi Besar

darikita.com, CIREBON – Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat Irfan Suryanagara mengatakan, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *