Friday , April 13 2018
Home / Nasional / Perlu Pendekatan Budaya untuk Menangkal Hoax
HARMONI INDONESIA: Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo (tengah) memimpin pembacaan Deklarasi Anti Hoax dalam acara Harmoni Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika di Balai Sartika, Kota Bandung.

Perlu Pendekatan Budaya untuk Menangkal Hoax

darikita.com – Bandung – Penyebaran hoax atau berita dan informasi bersifat bohong saat ini masih beredar secara bebas di media sosial dan disinyalir dilakukan oknum-oknum yang ingin mengganggu stabilitas negara. Maka, perlu dilakukan pembelajaran dan penyadaran kepada masyarakat agar lebih bijak dalam memilah dan memilih informasi.

Hal tersebut mendasari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggandeng pihak terkait untuk turut membantu menyosialisasikan penanganan penyebaran hoax di media sosial kepada masyarakat di acara bertajuk Bersama Dalam Harmoni Untuk Indonesia Sejahtera digelar di Balai Sartika Bandung, (1/4).

Acara tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mencegah dan memerangi penyebaran berita hoax yang turut berkembang pesat seiring perkembangan teknologi. Selain itu, saat ini permasalahan hoax bukan hanya urusan pemerintah saja, melainkan dibutuhkan peranan seluruh masyarakat.

Kabid Komunikasi dan Media Massa Kemenkominfo, Gungun Siswadi mengatakan, sosialisasi terkait hoax perlu dilakukan semua pihak agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang tidak benar. Sebab, jika melihat peredaran hoax di media sosial, semua informasi terus berulang dilakukan.

Menurutnya, terus disebarkannya hoax di media sosial agar masyarakat panik dan was-was. Sehingga, masyarakat yang mengonsumsi hoax tersebut akan menjadi pesimis dalam menjalani setiap aktivitasnya. Untuk itu, perlu kerjasama semua pihak untuk mencegah hoax agar tidak terus menyebar di media sosial.

”Itu yang diharapkan dari pelaku-pelaku informasi hoax yang beredar dan menjadi kontra produktif. Sementara kita harus melakukan produktivitas,’ kata Gungun.

Dikatakan Gungun, hoax yang beredar di media sosial bisa dikatakan hampir serupa dengan peredaran Narkotika dan Obat-obatan Berbahaya (Narkoba). Sebab, beredarnya informasi dan berita bohong di media sosial dikarenakan adanya produsen dan konsumen dari hoax tersebut.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, hoax merupakan bagian dari proxy war atau perang yang sengaja diciptakan negara-negara tertentu untuk membuat kekacauan di negara yang dituju. Namun, perang tersebut tidak menggunakan senapan maupun tentara karena senjatanya adalah hoax itu sendiri.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Daarul Ulum Walhikam Jogjakarta, Sugeng Utomo yang juga menjadi pembicara mengungkapkan, Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia menjadi sasaran empuk bagi negara lain. Hal tersebut juga menjadi alasan munculnya Muslim Cyber Army (MCA) dan lainnya yang menyusun langkah penyebaran hoax dengan rapi.

Untuk itu, dirinya sebagai pemuka agama merasa perlu memberikan sosialisasi kepada masyarakat khususnya muslim agar tidak menjadi alat penyebaran hoax di media sosial. Menurutnya, klarifikasi atau tabayyun penting dilakukan masyarakat dengan cara bertanya kepada orang-orang yang berkompeten di bidangnya.

”Jangan bertanya kepada artis persoalan agama, jangan bertanya pada tokoh agama ketika itu berhubungan dengan keamanan. Jadi semuanya ada tempatnya,” kata Sugeng.

Dikatakan Sugeng, perlu kerjasama semua pihak untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tetap utuh dan sejahtera. Sebab, banyak negara-negara lain yang menginginkan terjadi konflik di Indonesia. Sehingga, ketika sudah berkonflik, dengan sendirinya dipastikan Indonesia akan hancur. (adv/mg1/rie)

Check Also

Ajay Menyerahkan Santunan Kematian Bpjs Ketenagakerjaan Kepada Juru Parkir

darikita.com – CIMAHI- Walikota Cimahi, Ajay M. Priatna didampingi Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cimahi, Ferry ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *