Friday , April 13 2018
Home / Nasional / Sukmawati Minta Maaf
FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS POLEMIK PUISI: Sukmawati memberikan keterangan kepada wartawan seputar puisinya yang kontroversial beberapa waktu lalu di Warung Daun, Jakarta, kemarin (4/4).

Sukmawati Minta Maaf

darikita.com – JAKARTA – Sambil terisak, putri keempat Presiden Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri menyampaikan permintaan maafnya di hadapan publik kemarin (4/4) atas puisi berjudul ”Ibu Indonesia” yang dianggap telah menghina agama Islam.

”Dengan ini, dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf lahir dan batin pada umat Islam indonesia khususnya bagi yang merasa tersinggung dan keberatan,” ungkap Sukmawati di hadapan awak media.

Dia menyebut, puisi yang dia bawakan disesuaikan dengan tema acara pagelaran busana 29 Tahun Anne Avantie berkarya di ajang Indonesia Fashion Week 2018 di Jakarta Convention Centre (JCC) kamis (29/3) lalu. Yakni ”Cultural Identity”.

Puisi tersebut, kata Sukma­wati adalah salah satu bagian dari buku antologi puisi Ibu Indonesia yang telah diter­bitkan pada 2006. Lewat puisi tersebut, Sukmawati ingin mengingatkan kem­bali anak-anak bangsa untuk tidak melupakan jati diri me­reka.

Sukmawati mengatakan, dia sama sekali tidak bermaksud untuk menghina umat Islam. Dia menegaskan dirinya ada­lah seorang muslimah yang bangga dengan keislamannya, dan juga putri seorang pro­klamator, tokoh Muhamma­diyah, dan pemimpin negara yang diberi gelar oleh Nahd­latul Ulama sebagai Waliyul Amri Ad Dharuri Bi Asy Sy­aukah (Pemimpin pemerin­tahan di masa darurat), ya­kni Bung Karno.

”Saya pun tergerak untuk memahami Islam Nusantara yang Berkemajuan sebagai­mana cita-cita Bung Karno,” ujar Sukmawati.

Terpisah, Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB­NU) Helmy Faishal Zaini ber­harap kepada semua pihak agar lebih mengutamakan prinsip tabayun. ”Sebab, sangat mungkin pemahaman atau penyampaian bu Suk­mawati terhadap makna sya­riat Islam tidak utuh,” jelas Helmy.

Helmy juga berharap agar permasalahn tidak dibawa ke ranah hukum. Masalah ini dapat diselesaikan dengan terlebih dahulu melakukan dialog dan silaturahmi. ”Cu­kup dengan tabayyun, saya berkeyakinan tidak ada nia­tan dari bu Sukmawati untuk melecehkan Islam,” jelas Helmy.

Kendati demikian, Helmy Faishal juga berpendapat, hendaknya para tokoh bisa secara tepat dan lebih hati-hati ketika menggunakan kalimat atau diksi dalam berin­teraksi, utamanya dalam ru­ang publik. Jangan mengguna­kan kalimat yang dapat ber­potensi mengganggu bangu­nan ke-Indonesiaan.

Menurut Helmy, menjadi Indonesia seutuhnya adalah bagian dari bersyariah. Seluruh nilai Pancasila adalah Islami. Maka, tak perlu dipertentan­gkan. Banyak yang tidak utuh memahami makna syariah. ”Syariah tidak identik dengan khilafah (negara agama). Men­jadi warga negara Indonesia yang taat itu juga sudah ber­syariah,” imbuh Helmy.

Helmy mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mengambil tindakan-tindakan yang justru akan memperkeruh keadaan. ”Mari tetap kita sikapi dengan tenang dan kepala dingin,” ujarnya.

Sementara itu, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto men­jelaskan, soal laporan terhadap Sukmawati Soekarnoputri, Polri melakukan penyelidikan dengan cara mengumpulkan berbagai barang bukti. ”Sete­lah itu baru bisa ditindakla­njuti,” tuturnya di ruang Ru­patama Mabes Polri.

Ada dua tindaklanjut yang bisa dilakukan Polri, yakni diselesaikan dengan meka­nisme pengadilan atau dise­lesaikan dengan proses resto­rative justice alias proses pencarian keseimbangan antara pelaku dan korban demi mencari penyelesaian yang lebih adil.

”Beberapa pihak diselesai­kan perkaranya tanpa masuk pengadilan. Tapi, kalau me­mang harus sampai penga­dilan, tentu Polri memproses sesuai aturan,” ujarnya jen­deral bintang dua tersebut kemarin.

Untuk jumlah laporan untuk kasus pembacaan puisi ter­sebut, dia menuturkan bahwa hingga pagi hari ini ada dua laporan. Namun, bisa jadi bertambah kembali. ”Kita kumpulkan keterangan terus,” ungkapnya.

Dia menuturkan, ada sejum­lah pihak yang akan dimintai keterangan, seperti ahli ba­hasa dan pelapor. Namun, Polri berharap dalam situasi menjelang pesta demokrasi, setiap pihak bisa menahan diri. ”Jangan terlalu panas semua,” paparnya.

Sementara itu, laporan ter­hadap Sukmawati kembali bertambah, setelah laporan di Polda Metro Jaya dan Pol­da Jatim, kemarin (4/4) pukul 13.00 Wakil Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) Azam Khan melapor­kan Sukmawati ke Bareskrim.

Laporan ketiga ini dengan nomor polisi LP/450/IV/2018/Bareskrim tertanggal 4 April 2018. Azam menuturkan ba­hwa tujuan utama dari lapo­ran ini adalah meminta keadi­lan dalam kasus dugaan pi­dana yang diduga dilakukan Sukmawati. ”Intinya soal membandingkan azan dengan kidung dan cadar dengan konde,” ujarnya.

Terutama soal suara Adzan, dia menjelaskan bahwa adzan itu mengajak pada kebaikan, mengajak untuk salat. ”Ne­gara belum ada adzan ini sudah ada. Kidung dianggap lebih merdu dari Adzan inilah yang disebut penghinaan,” jelasnya.

Apakah tujuan laporan ini, mengingat sudah ada laporan lainnya? Dia menuturkan bahwa tujuan utamanya agar membuat setiap orang tidak mudah dalam melecehkan agama. ”Kalau dia muslim, tapi tidak mengetahui syariat Islam ya diam saja,” tegasnya.

Dia menuturkan, bila Suk­mawati meminta maaf, ten­tunya masalah akan selesai. TPUA selanjutnya akan men­cabut laporan. ”Otomatis gugur, tidak apa-apa,” papar­nya ditemui di Bareskrim kemarin.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan Sukmawati se­baiknya dengan jiwa besar memang menyampaikan permintaan maaf secara tulus dan terbuka. ”Mudah-muda­han bisa meredam kontro­versi. Selain itu mudah-mu­dahan kita bisa memaafkan dan menerima apa yang dila­kukan Ibu Sukmawati,’’ kata­nya di kantor Kemenag ke­marin (4/4).

Lukman mengatakan dengan saling memaafkan itu, tidak semua persoalan yang terkait beda pandangan selalu dibawa ke proses hukum. Dia mene­gaskan bangsa Indonesia ada­lah bangsa yang penuh rasa kekeluargaan. Bangsa yang menghargai pendapat orang lain. Dan bangsa yang men­ghargai perbedaan pandangan.

Dia mengaku kenal dengan sosok Sukmawati. Lukman meyakini tidak ada iktikad mengusik apalagi melecehkan, menghinda, dan seterusnya. ’’Saya kenal beliau. Sampai (disebut, Red) mengatakan membenci Islam, tidak sejauh itu,’’ jelasnya.

Menurut Lukman puisi itu adalah bentuk ekspresi sesorang mengungkapkan apa yang dia rasakan. Apa yang dipikirkan. Dan apa yang dia ketahui dalam bentuk tulisan. Lukman sen­diri beberapa kali tampil di muka publik membacakan puisi. Dia mengatakan punya pandangan sendiri terkait puisi yang dibawakan oleh Sukmawati. ’’Di internal umat Islam sendiri, cadar apakah syariat atau bukan, itu belum satu pandangan utuh,’’ tutur­nya. (tau/idr/wan/rie)

Check Also

Berikan Ruang Konsultasi Perawatan Ginjal

darikita.com – SOREANG – Sekitar 245 orang pasien perawatan ginjal Instalansi Hemodialisa Rumah sakit Al ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *