Kamis , 27 Juni 2019
Breaking News
Home / BERITA UTAMA / Balita Pakai Oksigen
hadli vavaldi/riau pos MENINGKAT DRASTIS: Permintaan isi ulang oksigen portable seharga Rp 35 ribu dijual di salah satu apotik di Jalan Ahmad Yani Pekanbaru. Sejak kabut asap, permintaan oksigen tabung meningkat drastis.

Balita Pakai Oksigen

hadli vavaldi/riau pos MENINGKAT DRASTIS: Permintaan isi ulang oksigen portable seharga Rp 35 ribu dijual di salah satu apotik di Jalan Ahmad Yani Pekanbaru. Sejak kabut asap, permintaan oksigen tabung meningkat drastis.
hadli vavaldi/riau pos
MENINGKAT DRASTIS: Permintaan isi ulang oksigen portable seharga Rp 35 ribu dijual di salah satu apotik di Jalan Ahmad Yani Pekanbaru. Sejak kabut asap, permintaan oksigen tabung meningkat drastis.

Satu Tabung Habis Dua Jam

darikita.com, PEKANBARU – Sepekan beroperasi, jumlah bayi dan anak usia bawah lima tahun (balita) yang diungsikan ke posko evakuasi aula lantai 3 kantor wali kota Pekanbaru bertambah. Hingga Rabu (7/10) kemarin, sudah ada lima bayi dan satu balita memilih tinggal sementara di sana.

Sebelumnya, di posko evakuasi itu sendiri ada empat orang bayi dan satu balita bersama orang tua mereka mengungsi. Mereka memilih untuk sementara berada di posko karena kondisi kabut asap di rumah masing-masing sudah tak tertahankan lagi.

”Sekarang semuanya ada enam, tambah satu bayi yang datang,” jelas dokter jaga Satgas Posko Evakuasi Fenny Artita di posko evakuasi.

Bayi yang diungsikan ini, kata dia, didampingi sepanjang waktu oleh para orang tuanya. ”Semua keperluan bayi sudah ditanggung, termasuk susu dan kebutuhan lainnya. Selain itu kondisi bayi juga senantiasa dicek,” lanjutnya.

Meski saat ini baru ada lima bayi dan satu balita, kapasitas posko evakuasi ini sendiri sebenarnya bisa menampung ratusan bayi. Karena itu, masyarakat yang ingin mengungsi ke sana dinilai tak perlu khawatir. ”Ada tiga tempat disiapkan. Bisa ratusan bayi,” tutupnya.

Posko evakuasi yang awalnya hanya diperuntukkan bagi bayi usia 0 sampai 6 bulan, akhirnya dibuka juga untuk bisa menampung balita. Kebijakan ini terhitung mulai efektif berlaku Senin (5/10) kemarin.

Di posko sendiri bayi yang datang untuk mengungsi akan ditangani oleh dokter dan perawat yang berjaga sepanjang waktu. Mereka begitu tiba akan menjalani pemeriksaan dan perawatan jika terindikasi menderita dampak kabut asap.

Selain yang kini masih berada di posko, ada pula lima bayi lainnya yang sempat datang. Namun mereka memilih pulang dengan berbagai alasan. Mayoritas bayi yang datang mengalami gejala ringan akibat dampak kabut asap seperti batuk dan flu. Setelah diberi penanganan, kondisi mereka di posko membaik.

Pemko Pekanbaru di posko tersebut menyiapkan makanan, susu dan obat-obatan serta kebutuhan pampers bayi. Termasuk juga disiapkan kebutuhan makanan para ibu bayi dan satuan tugas pengamanan di luar ruang evakuasi.

Posko evakuasi semula adalah aula lantai kantor wali kota Pekanbaru kini berubah fungsi. Sebab kabut asap, ruang rapat utama ini disulap menjadi posko evakuasi bagi bayi berusia enam bulan ke bawah dari keluarga miskin.

Sejak Rabu (30/9) kemarin, kegiatan di posko ini sudah sepenuhnya beroperasi. Ruang yang digunakan adalah dua ruangan, ruang rapat dan ruang VIP.

Sementara itu, banyak sudah upaya yang dilakukan Sarmaini Amin agar sang cucu tetap bertahan di tengah kepungan asap. Mulai dari evakuasi ke Sumatra Barat hingga membeli tabung gas oksigen nebuler demi menyambung nafas sang cucu, Nadia Safira Nugroho, 6. Kini, dia hanya bisa mengurung sang cucu di rumah dan mengawal kemana pun dia pergi, bahkan ke sekolah sekalipun.

Bocah kelas satu SDN 110 tersebut memang sebelumnya sudah mengidap penyakit asma. Dia sangat rentang dengan berbagai kondisi udara. Terlebih kondis udara Kota Pekanbaru saat ini dalam kategori sangat berbahaya karena kabut asap yang menyelimuti. Akibatnya, gadis kecil dengan asma seperti Nadia tak berdaya dan menjadi semakin susah untuk bernafas.

Saat kabut asap melanda sekitar sebulan lalu, Nadia mengeluhkan batuk berkepanjangan. Khawatir, sang nenek Sarmaini langsung melarikan cucunya ke rumah sakit. Dokter pun menyarankan Nadia untuk dievakuasi tempat yang udaranya lebih bersih agar penyakitnya tak kambuh. Sarmaini pun langsung berangka ke Sumatra Barat bersama Nadia dan sang adik yang berusia 1 bulan.

Tiga minggu di sana, ternyata kegiatan sekolah di Pekanbaru sudah dimulai. Tak ingin cucu ketinggalan pelajaran, Sarmaini kembali pulang ke Pekanbaru. Malangnya, sehari di Pekanbaru, ternyata asap kembali pekat dan sang cucu kembali kesulitan bernafas.

”Kondisi tersebut membuat kami semakin kebingungan. Kondisi asap yang tak bisa diprediksi membuat kami serba salah,” ujar Sarmaini saat ditemui di rumahnya Jalan Angkasa No 16, Panam kemarin.

Meski lemah dan sulit bernafas, Nadia tetap bersekolah dengan pengawalan Sarmaini. Sang cucu tak bisa lepas dari masker saat berada di sekolah. Di rumah, Nadia juga bergantung pada oksigen yang berasal dari tabung 1 kubik dan regulator serta nebuler yang dibeli sang nenek dengan uang pribadi.

Harga satu set tabung tersebut tergolong cukup mahal. Yakni Rp 800 ribu per set. Jika dipakai intensif, oksigen tersebut hanya membantu Nadia bernafas selama kurang lebih dua jam saja. Tabung mahal tersebut sebenarnya bukan pilihan awal Sarmaini. Dia biasanya membeli tabung oksigen portable kecil yang harganya hanya Rp 35 ribu. Namun, saat ini apotek kehabisan stok tabung oksigen tersebut.

Akibatnya dia pun harus beralih ke yang lebih mahal. Itu pun untuk pengisian ulang tabung, Sarmaini juga mengaku kesulitan. Sebab, peminatnya di apotek sangat banyak dan sering kehabisan. Hingga kemarin, sudah empat buah tabung ukuran satu kubik dan tak terhitung tabung portable yang dihabiskan untuk menyambung nafas Nadia.

Sarmaini mengaku, sebelumnya Nadia belum pernah separah ini. ”Biasanya jika asmanya kambuh, Nadia cukup minum obat dan beristrihat saja. Namun kini, sejak asap dia harus dipasangkan nebuler dan selang oksigen. Karena dia sangat kesulitan bernafas,” papar neneknya.

”Dia kesakitan. Kami tak tega melihatnya. Jika tak ada peralatan bantu nafas tersebut, entah bagaimana kondisi Nadia saat ini,” tambah sang nenek dengan wajah murung.

Nadia sendiri saat ditemui tampak terbaring sambil mengenakan peralatan bantu nafas di hidungnya. Tak jarang dia menangis karena sulit bernafas dan mengaku sesak. Wajahnya begitu pucat. Matanya sayu seperti kelelahan. Bocah kecil tersebut adalah satu dari ribuan korban keganasan asap.

Oleh karena itu, Sarmaini berharap kelak pemerintah bisa segera mengatasi bencana tersebut. Dia ta ingin ada Nadia Nadia lain di luar sana yang harus membeli mahal oksigen untuk bernafas. ”Sampai kapan asap ini berakhir? Saya kasihan melihat Nadia yang tak henti merasa sesak. Ia masih sangat kecil untuk merasakan hal tersebut,” tambahnya.

Untuk biaya sendiri, Sarmaini sudah menghabiskan banyak uang agar sang cucu bisa hidup. Namun, itu tak lagi dipedulikamnya. Yang terpenting Nadia bisa tersenyum dan melakukan akitivitas seperti biasa. Di tengah penderitaannya itu, terpikir olehnya bagaimana jika nasib tersebut menimpa keluarga miskin yang tak mampu? (ali/mg3/rie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *