Selasa , 18 Juni 2019
Breaking News
Home / BERITA UTAMA / 90 Persen Perajin Cobek Batu
FAJRI ACHMAD NF / BANDUNG EKSPRES MEMAHAT: Pekerja membuat Cobek batu di Gunung Bandera, Kampung Pojok, Gantungan, Desa Jaya Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (29/9). Menjadi pembuat cobek bagi warga Kampung Pojok adalah pilihan turun temurun, mereka mendapatka dapat membuat cobek dalam sehari sekitar 10-15 buah.

90 Persen Perajin Cobek Batu

FAJRI ACHMAD NF / BANDUNG EKSPRES MEMAHAT: Pekerja membuat Cobek batu di Gunung Bandera, Kampung Pojok, Gantungan, Desa Jaya Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (29/9). Menjadi pembuat cobek bagi warga Kampung Pojok adalah pilihan turun temurun, mereka mendapatka dapat membuat cobek dalam sehari sekitar 10-15 buah.
FAJRI ACHMAD NF / BANDUNG EKSPRES
MEMAHAT: Pekerja membuat Cobek batu di Gunung Bandera, Kampung Pojok, Gantungan, Desa Jaya Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (29/9). Menjadi pembuat cobek bagi warga Kampung Pojok adalah pilihan turun temurun, mereka mendapatka dapat membuat cobek dalam sehari sekitar 10-15 buah.

 

Sudah Menjadi Mata Pencaharian Tetap Kampung Pojok, Gantungan, Desa Jaya Mekar

darikita.com, PADALARANG – Potensi alam di Kampung Pojok, Gantungan, Desa Jaya Mekar, Kecamatan Padalarang dimanfaatkan warga sekitar menjadi mata pencaharian. Hampir semua warga kampong itu menjadi perajin cobek batu.

Menurut Ketua RW 11, Kampung Pojok, Gantungan, Desa Jaya Mekar, Kecamatan Padalarang Isah Suryani, menjadi perajin cobek sudah menjadi pencaharian warga di sana.

”hamper 90 persen warga di sini membuat cobek batu. Sedangkan 10 persen lagi hanya menjadi petani dan buruh pabrik. Bahkan, anak muda di sini, banyak meneruskan jejak orangtuanya,” katanya kepada Bandung Ekspres kemarin (29/9).

Isah menuturkan, batu-batu tersebut diambil dari Gunung Citatah yang tidak jauh dari pemukiman warga. Warga biasanya mulai ke gunung dari pagi hingga sore. Setelah itu, hasil pahatannya baru dibawa untuk dirapihkan. Warga biasanya bekerja ada yang secara berkelompok dan perseorangan.

Di tempat yang sama, salah satu warga pembuat cobek batu, Asep, 45, mengaku dalam sehari bisa membuat 10 cobek. Dia akan menjual cobek tersebut langsung kepada warga. Asep langsung berkeliling ke Bandung Barat setelah tiga hari membuatnya.

”Harganya variatif, mulai dari Rp 9 ribu sampai Rp 50 ribu,” ucapnya.

Cobek tersebut memang tidak langsung jadi, tetapi harus dipoles supaya rapih. Diakui olehnya, banyak ibu rumah tangga yang lebih tertarik kepada cobek batu. Alasannya, membuat bumbu dengan menggunakan cobek batu, terasa khas. Kalau menggunakan cobek kayu, bumbu tidak terlalu terasa. Beberapa warga masih mencari cobek tersebut untuk di dapurnya.

”Kalau pake cobek batu, biasanya pembeli bilang lebih kuat dan tahan lama,” katanya.

Di tempat yang berbeda, pembuat cobek batu asal Cipatat, Entang, 50, mengatakan cobeknya biasa dijual ke sekitar Jawa Barat. Dia sudah menekuni usaha tersebut sekitar 35 tahun. Sehingga, pasar untuk cobek batunya sudah jelas.

”Sekarang saya bekerja hanya berdasarkan pesanan. Kalau tidak ada pesanan saya tidak akan membuat. Tetapi, tiap harinya selalu saja ada pesanan,” katanya. Dia menambahkan, daerah paling banyak yang memesan cobek batu yaitu dari Garut, selanjutnya baru daerah Tasik. (mg5/fik)

Check Also

Jamin Pelaksanaan Mudik Aman

CIMAHI – Untuk membe­rikan rasa aman dan nyaman bagi pengendara yang akan mudik melintasi jalur Kota …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *