Rabu , 20 Januari 2021
Home / bandung raya / Angka Positif Covid-19 di Kota Bandung Melonjak Tajam, Penerapan Relaksasi Tempat Hiburan jadi Bumerang?

Angka Positif Covid-19 di Kota Bandung Melonjak Tajam, Penerapan Relaksasi Tempat Hiburan jadi Bumerang?

BANDUNG – Pelaksanaan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di Kota Bandung dengan penerapan Protokol Kesehatan (Prokes) ternyata hanya isapan jempol belaka.

Hal ini terbukti dengan kondisi warga Kota Bandung yang semakin abai dan cuek dalam penerapan prokes.

Berdasarkan penelusuran Jabar Ekspres, para pedagang di pasar tradisional sudah tidak peduli lagi dengan prokes. Bahkan, aktivitas masyarakat Kota Bandung seperti sudah lupa bahwa saat ini amsih dalam masa Pandemi.

Kondisi ini, berbanding lurus dengan peningkatan angka positif di Kota Banding yang masih tinggi. Bahkan, ketersediaan ruang isolasi di rumah sakit rujukan hampir terisi penuh.

Menanggapi masalah ini Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengakui bahwa Kota Bandung kembali masuk ke dalam zona merah dengan indeks 1.63.

’’batasnya zona merah di 1.80,” ujar Yana di Kantor Kejaksaan Negeri Kota Bandung, Selasa (1/12).

Meski begitu, Yana menyakinkan bahwa angka reproduksi virus di Kota Bandung masih di bawah satu. Bahkan, indeks parameter masih di bawah 1 atau tepatnya 0,80.

Disinggung upaya penerapan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Yana mengatakan, kebijakan tersebut harus dibahas terlebih dahulu bersama Firum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

“Opsi (kebijakan) mah banyak. Bisa jam operasional dikurangi, kapasitas dikurangi, tapi karena ini belum diputuskan,” ujarnya.

Yana kembali menegaskan, Bandung saat ini berada dalam status waspada serta ketersediaan tempat tidur untuk isolasi pasien covid-19 sudah penuh. Oleh karena itu perlu pengetatan penerapan protokol kesehatan.

“Tapi sekali lagi di zona apapun kita, merah oranye kuning bahkan hijau kita tetap harus waspada melaksanakan protokol yang ketat karena Bandung sekarang kondisinya sudah waspada. ketersediaan tempat tidur di rumah sakit sudah penuh,” ungkapnya.

Terpisah, Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna mengatakan, skor di kita ini labelnya sudah drop, jumlah angkanya sangat luar biasa, angkanya ini 759 positif aktif.

Pihaknya juga akan melakukan beberapa langkah berupa evaluasi kegiatan masyarakat, termasuk kegiatan ekonomi. Baik (evaluasi) tempat hiburan, perdagangan, karena ini sebuah konsekuensi termasuk juga penggunaan lalu lintas.

’’Mungkin saja nanti kembali ada kebijakan bloking jalan, pengaturan jalan, dan lain sebagainya karena itu sebuah kebutuhan,” kata Ema.

Dia menegaskan, pihaknya telah menugaskan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata beserta Dinas Perdagangan dan Perindustrian untuk melakukan evaluasi sektor yang telah direlaksasi.

“Saya menugaskan mereka lakukan evaluasi karena sekarang sudah zona merah. Kalau memang di lapangan protokol kesehatannya sudah tidak terkendali, kita berlakukan lagi kepada aturan semula, revisi,” tegasnya.

“Ini (evaluasi) untuk bahan nanti akan mengusulkan ke pak Wali Kota,” sambungnya.

Selain itu, Ema mengatakan dia sudah memerintahkan Disbudpar untuk berkoordinasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat. Sebab, libur panjang beberapa waktu lalu juga berimbas pada status zona merah kota Bandung saat ini.

“Kemarin sudah ada libur panjang, yakin ini berpengaruh. Sekarang imbasnya, 14 hari kemudian. Ada mobilitas yang luar biasa,” ujarnya.

“Sudah perintahkan kepada jajaran terkait Disbudpar untuk koordinasi dengan PHRI untuk melakukan pengetatan protokol kesehatan, terutama tingkat okupansi hanya 50 persen. Jangan dulu melihat itu peluang ekonomi, kesehatan jauh lebih penting,” seru Ema. (ayu/yan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *