Kamis , 27 Juni 2019
Breaking News
Home / ENTERTAINMENT / Awalnya Iseng, Akhirnya Sukses Naik Podium
IMAM HUSEIN/JAWA POS JADI NYATA: Andika Rama Maulana menujukkan thropy miliknya saat menjadi juara 2 Nissan GT Academy di Inggris (4/9).

Awalnya Iseng, Akhirnya Sukses Naik Podium

IMAM HUSEIN/JAWA POS JADI NYATA: Andika Rama Maulana menujukkan thropy miliknya saat menjadi juara 2 Nissan GT Academy di Inggris (4/9).
IMAM HUSEIN/JAWA POS
JADI NYATA: Andika Rama Maulana menujukkan thropy miliknya saat menjadi juara 2 Nissan GT Academy di Inggris (4/9).
Andika Rama Maulana, dari Main Game Menuju Sirkuit Silverstone Inggris

Piawai mengemudikan mobil di dunia maya mengantarkan Andika Rama Maulana ke arena balapan yang sesungguhnya. Dia berhasil menjajal Sirkuit Silverstone, Inggris, dan sukses naik podium juara.

DODY BAYU PRASETYO, Bekasi

darikita.com, ANGGAPAN bahwa seorang gamer hanya piawai di depan layar kini dipatahkan Andika Rama Maulana. Pria 21 tahun itu sehari-hari menghabiskan banyak waktu di depan komputer untuk nge-game, terutama yang bergenre balapan mobil.

Tapi, dari kebiasaan itu pula, belum lama ini (20 Agustus 2015) dia sukses membawa pulang piala dari ajang balapan mobil Nissan GT Academy Asia 2015 yang digelar di Sirkuit Silverstone, Northampton, Inggris. Ajang balapan yang diadakan perusahaan mobil raksasa Nissan tersebut memang dikhususkan bagi para gamer yang menyukai jenis permainan balap mobil dari konsol PlayStation, Gran Turismo, sekaligus terobsesi menjadi pembalap mobil sungguhan. Meski ajang itu ada sejak 2008, baru tahun ini Indonesia mengirimkan sejumlah gamer terbaik untuk mengikutinya. Mereka berduel dengan peserta dari empat negara Asia lainnya, yakni Filipina, Jepang, Thailand, dan India.

Meski prestasinya di sirkuit cukup membanggakan, Rama memang bukan pembalap mobil profesional. Dia lebih senang tetap disebut sebagai gamer daripada pembalap. Meski, menjadi pembalap mobil adalah cita-cita terbesarnya sejak kecil.

Itu bisa dilihat dari barang-barang yang dia koleksi. Di rumahnya, Rama mengoleksi beberapa setir ”mobil balap”. Setir-setir itu juga hanya dia gunakan untuk bermain game. Lengkap dengan gagang kopling serta rem dan gasnya. ”Sejak 2010, kalau main game balapan, aku memang pakai setir biar benar-benar merasakan sensasinya nyetir mobil balap sungguhan,” kata Rama sambil menunjukkan satu set peralatan game-nya.

Namun, kini setir-setir yang tadinya hanya dibuat untuk bermain game itu dapat mengantarnya mengikuti ajang balapan mobil bergengsi untuk pembalap mobil amatir di Nissan GT Academy Asia 2015. Pria yang tinggal di Bekasi tersebut mengaku sama sakali tidak menyangka menjadi satu di antara enam gamer yang akan menjadi pembalap mobil untuk diterbangkan ke Inggris.

”Awalnya iseng ikutan pendaftaran Nissan GT Academy secara offline pada Mei lalu,” ujarnya. Waktu itu pendaftaran dibuka di tiga tempat. Yakni, Mal Taman Anggrek, Mal Kepala Gading, dan Surabaya. ”Yang ikut ribuan, kayaknya sampai 10 ribuan,” sambung Rama.

Itu baru jumlah pendaftar yang ikut melalui offline atau langsung datang ke lokasi pendaftaran. ”Yang mendaftar secara online lebih buanyak lagi,” katanya dengan mata mendelik.

Juni lalu dia menembus 20 besar dari pendaftar yang masuk melalui jalur offline maupun online. Rama menjelaskan, 20 orang yang terpilih tersebut kembali menjalani serangkaian tes di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat. Di sana tesnya lebih berat lagi. ”Ada tes fisik dan stamina yang lumayan berat. Daripada nanti celaka di sirkuit, lebih baik dites dulu fisiknya dari awal,” tuturnya.

Selain dites fisik dan stamina, dia dan 19 peserta lainnya diuji dalam mengendarai mobil sungguhan di arena sirkuit. ”Bukan mobil balap sih, tapi Nissan standar dan masih pabrikan. Kami diuji dalam pengambilan keputusan saat berkendara dan mengerem,” terang dia.

Tapi, saat itu yang paling dirisaukan Rama bukan tes berkendaranya, tapi mobil yang digunakan untuk tes tersebut ternyata meleset dari ekspektasinya. Di game, dia biasa ”mengendarai” mobil balap di Gran Turismo seperti Honda NXT Concept, Subaru BRZ, atau BMW M4.

”Ya nggak sama sih. Rasanya ternyata kalau di game beda. Kalau di game kita ngerem langsung berhenti, kalau ini direm malah bisa belok-belok,” ujarnya, lalu tertawa.

Setelah menjalani serangkaian tes, Rama terpilih masuk enam besar yang sekaligus diterbangkan ke Inggris pada 14 Agustus lalu. Lima peserta lainnya adalah Louis Ferson, Pradana Yogatama, Raira Bhaskara, Datu Yoga Brata, dan Kresna Agusta. Sama dengan Rama, lima peserta tersebut adalah gamer yang berlatar belakang karyawan hingga mahasiswa. ”Pembalap profesional nggak boleh ikut,” ucapnya.

Setiba di Inggris, mereka disambut serangkaian tes dari pihak penyelenggara. Tes bertujuan memilih satu orang dari setiap negara peserta yang berhak untuk mengikuti final race pada 20 Agustus 2015.

Tidak hanya bersaing dengan kawan sendiri, Rama harus bersaing dengan kontestan dari empat negara Asia lainnya. ”Kami disaring lagi selama tujuh hari. Satu per satu dari Indonesia gugur. Ada yang takut ketinggian, ada yang tidak lulus tes mengemudi,” kenang pria yang mulai bermain game balapan mobil saat TK itu.

Meski mendebarkan, dia mengaku sangat menikmati. Sebab, bagi dia, itu menjadi satu-satunya kesempatan menjajal berbagai mobil balap yang selama ini hanya dinikmati secara virtual di dalam rumah. ”Aku harus melewati beberapa tantangan atau tes, yaitu mengendarai Formula 3.000, JP-LM, Nissan GT-R, Caterham, dan Nissan 370Z. Itu semua baru pertama aku kendarai dan sebelumnya nggak ada latihan. Latihannya dari game itu kali,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, mengendarai mobil balap sungguhan tentu jauh berbeda dengan mengendarai di dalam game. ”Karena kalau ada apa-apa nggak bisa di-restart, haha,” ucapnya.

Meski baru pertama menjajal berbagai mobil balap, Rama mengaku tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Sebab, mengendarai versi virtual atau di dalam game, menurut dia, sudah lumayan riil. ”Nyaris sama karena spek mobilnya juga sama. Walaupun selama ini main di dalam game aja aku juga selalu berhati-hati agar tidak sampai menabrak,” katanya.

Selain ditantang untuk mengendarai mobil-mobil balap yang keren, Rama harus melewati tes lainnya, yakni GP Ninja (tes fisik), Gymkhana (slalom dan drift), Buggy Challenge, test race dengan Nissan 370Z di Sirkuit Silverstone, dan Stock Car. Selanjutnya, semua nilai dikumpulkan untuk menentukan wakil dari setiap negara yang akan tampil di final race. ”Akhirnya aku yang terpilih mewakili Indonesia untuk final race,” ucap si bungsu di antara dua bersaudara tersebut.

Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Jayabaya tersebut mengatakan, saat final race, Indonesia beruntung karena berhasil menempati posisi pertama. Di belakang Rama berturut-turut wakil Jepang, Filipina, Thailand, dan India.

”Lapnya ada sepuluh dengan total panjang sekitar 50 kilometer. Aku mengendarai Nissan 370Z dan saat itu cuacanya juga gerimis,” paparnya.

Namun, saat berlaga, Rama belum dapat memaksimalkan posisi strategis tersebut. Sebab, saat lap kelima, pembalap asal Filipina Jose Gerard Policarpio berhasil melaju kencang melewati Rama.

Rama tidak menyerah. Dia terus menguntit Policarpio. Namun, hingga balapan berakhir, dia tidak berhasil mendahului. ”Aku cuma dikasih pantat mobilnya aja,” ujarnya dengan nada agak sebal.

Rama hanya berselisih waktu 0,288 detik dari Policarpio yang finis dengan catatan waktu 13 menit 12,433 detik. Meski berada di urutan kedua, Rama menjadi peserta final race dengan catatan waktu tercepat, yaitu 1 menit 18,033 detik dalam satu putaran.

Meski bukan nomor satu, Rama tetap bersyukur. Sebab, dia mampu memberikan kebanggaan kepada Indonesia dan keluarganya. ”Bangga banget karena ini prestasi terbesar aku sepanjang hidup. Padahal, aku hanya gamer,” katanya

Selain mendapat piala dan sejumlah hadiah, Rama membawa pulang pengalaman berharga. Yakni, tercapainya cita-cita sebagai pembalap meski hanya beberapa saat. ”Akhirnya aku sudah menjajal rasanya jadi pembalap sungguhan. Dari sana aku tahu ternyata balapan itu bikin capek juga,” ujarnya.

Rama mengaku masih menyimpan angan-angan menjadi pembalap mobil profesional. ”Masih ada rencanaku ke sana, tapi belum tahu jalannya seperti apa,” ujarnya.

Juara kedua di Nissan GT Academy Asia 2015 ternyata bukan satu-satunya prestasi besar yang pernah dicapainya. Rama mengaku berkali-kali membawa pulang piala juara pertama dalam berbagai ajang balapan game Gran Turismo dan game balapan lainnya. Selain itu, Rama tidak hanya menjadi juara kandang di Indonesia.

Pencinta mobil Nissan Skyline GT-R R33 dan Nissan GT-R R35 tersebut juga pernah menjuarai lomba game Gran Turismo di Jepang dua kali. ”Dari sana tiba-tiba dapat undangan dari BMW buat ke Turki, buat tes mobil BMW seri M3 dan M4. Lumayan, jalan-jalan gratis,” tuturnya. (*/c10/nw/rie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *