Kamis , 27 Juni 2019
Breaking News
Home / BERITA UTAMA / Bandros Belum Layak Operasi
FAJRI ACHMAD NF. / BANDUNG EKSPRES IKON: Bus Bandros akan dikaji ulang operasionalnya setelah kecelakaan yang menewaskan seorang mahasiswa Unpar.

Bandros Belum Layak Operasi

Saling Cuci Tangan

darikita.com, Awalnya semua pihak bangga dengan kehadiran Bandung Tour On Bus (Bandros). Tidak terkecuali Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bandung. Namun, sejak peristiwa wafatnya mahasiswa Universitas Parahyangan, Andy Setiawan Haryanto yang terjatuh dari Bandros, semuanya menolak jadi bagian dari keberadaan Bandros alias cuci tangan.

Pihak yang selama ini mengagumi dan menjadikan Bandros menjadi salah satu ikon pariwisata Kota Bandung juga alat promosi wisata, angkat bicara menolak Bandros bagian dari tanggungjawabnya.

’’Memang ironis. Yang semula bangga lalu bersembunyi di balik dinding ketidaktahuan dan menolak jadi bagian Bandros. Sejak awal saya menilai Bandros sebenarnya dari sisi keamanan dan kenyamanan belum layak dioperasikan di jalanan Kota Bandung,” tukas anggota Komisi C Folmer Silalahi, kemarin.

Ketua Komisi D Achmad Nugraha menyatakan, sebagai pihak yang mengontrol kinerja bidang pariwisata, sudah mengingatkan, bila struktur jalan di Bandung, belum dipersiapkan secara optimal untuk menampung moda transportasi bertingkat. Sehingga, kehadiran bus bertingkat memerlukan area bebas vertikal hambatan yang cukup tinggi. ’’Inilah mengapa sejak awal saya mengingatkan akan resiko Bandros beroperasi di jalanan kota Bandung,’’ tukas Amet-sapaan akrabnya.

Riantono, anggota Komisi C, mengungkapkan, sepengetahuan dia tidak pernah ada secuil izin pun yang menetapkan Bandros sebagai kendaraan pariwisata. Kehadirannya, sebatas transportasi hiburan warga. ’’Kita DPRD tidak pernah meligitimasi Bandros sebagai moda transportasi pariwisata. Sehingga peristiwa, meninggalnya mahasiswa Unpar hingga wafat, diluar kontek kepariwisataan,’’ tegas politisi PDI Perjuangan ini.

Sementara itu, Kepala Polrestabes Bandung Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol menyatakan, izin operasional Bandros bukan ranah pihaknya, akan tetapi kewenangan Dinas Perhubungan.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menyebut Bandros belum mempunyai uji kelaikan sebagai angkutan. Bahkan, pengesahan rancang bangun Bandros pun berbeda dengan operasionalnya.

”Jika memang Kemenhub tahu tentang Bandros kenapa mereka tidak melarangnya. Jika demikian, mereka melakukan pembiaran. Kalau kita hanya proses kenapa meninggalnya orang di mobil, apakah ada kelalaian? Penyebabnya apa? Nah itu yang kita proses,” terang Yoyol di Mapolrestabes Bandung.

Dirinya menegaskan, layak tidak layaknya Bandros beroperasional menjadi wewenang instansi tersebut. ’’Kalau Dishub tahu tidak layak, kenapa tidak ditangkap? Apa gunanya dia? Lalu apa kewajiban dia? Jangan lempar bola, lempar dari masalah. Kalau ini ada kecelakaan, saya proses secara hukum,” ucap mantan Kapolres Metro Jakarta Pusat itu.

Langkah selanjutnya yang diambil kepolisian adalah melakukan pemeriksaan sesuai aturan berlaku. Bila nyatanya Bandros membahayakan penumpang akan dihentikan. Pasalnya, selama ini baru kelalaian dari pihak penumpang.

PT PLN yang telah mengecek langsung ke lapangan menyatakan, kabel yang membuat jatuh Andy bukan milik perusahaan tersebut. Hal ini sekaligus mengklarifikasi berita sebelumnya.(edy/vil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *