Selasa , 18 Juni 2019
Breaking News
Home / Bisnis / BI Jaga di Bawah 14.000

BI Jaga di Bawah 14.000

darikita.com, JAKARTA – Rupiah masih bergerak dalam volatilitas (pergerakan naik turun) tinggi. Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter pun diminta lebih ketat menjaga rupiah agar tetap di bawah level 14.000 per dolar Amerika Serikat (USD).Rupiah-Menguat

Pengamat pasar uang Farial Anwar mengatakan, nilai tukar rupiah yang sempat berada di atas 14.000 per USD terbukti lebih banyak menyusahkan para pelaku usaha. ”Karena itu, mumpung sekarang sudah di bawah 14.000, BI harus bisa menjaganya,” ujarnya kemarin (8/10).

Farial mengakui, peran BI sebagai bank sentral memang belum sekuat yang diharapkan. Karena itu, ketika isu kenaikan The Fed memanas beberapa waktu lalu, maka intervensi BI di pasar keuangan pun seolah tak mempan sehingga rupiah sempat terlempar ke 14.700 per USD.

Dia menyebut, penguatan tajam rupiah dalam beberapa hari ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama derasnya aliran modal masuk ke pasar keuangan Indonesia senilai lebih dari USD 100 juta dalam waktu tiga hari saja. Meskipun, BI sendiri sudah menguras devisa hingga USD 7 miliar dalam beberapa bulan terakhir. ”Sekarang faktor eksternal mulai reda, saatnya BI lebih aktif,” katanya.

Menurut Farial, langkah aktif BI tidak harus selalu dengan intervensi ke pasar, melainkan juga melalui kebijakan-kebijakan untuk memperkuat pasokan valas di dalam negeri. ”Setidaknya, kalau BI bisa menjaga rupiah di bawah Rp 14.000 atau malah di bawah 13.500 dalam waktu cukup lama, maka itu akan menaikkan kredibilitas BI di mata pasar,” ucapnya.

Farial mengakui, dalam kondisi saat ini, memprediksi nilai tukar rupiah ibarat melihat ke lorong gelap. Sebab, berbagai analisis fundamental dan teknikal yang dibuat para pakar tak lagi berlaku. Misalnya, kenaikan tajam rupiah hingga 1.000 per USD dari 14.700 menuju 13.700 dalam tiga hari, benar-benar tak terduga. ”Sebab, pasar uang sekarang digerakkan sentimen, itu tak bisa diukur,” ujarnya.

Namun, bukan berarti BI dan pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Dengan memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed baru akan dinaikkan tahun depan, maka ada waktu beberapa bulan bagi BI dan pemerintah untuk menunjukkan kepada pasar bahwa perbaikan fundamental ekonomi benar-benar dijalankan.

Misalnya, melalui paket kebijakan yang dikeluarkan BI, OJK, maupun pemerintah. ”Paket kebijakannya sudah bagus, kalau implementasinya di lapangan juga bagus, pasar akan merespons positif dan mengembalikan kepercayaan pada pemerintah. Jika itu terjadi, aliran modal akan masuk, sehingga rupiah berpotensi menguat atau setidaknya stabil di bawah Rp 14.000 (per USD hingga beberapa bulan ke depan,” urainya.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengungkapkan bahwa pihaknya yakin rupiah bisa menyentuh level Rp 13.500 per USD. Dengan catatan, ada perbaikan ekonomi domestik. ”Ya bisa (ke Rp 13.500). Karena kalau ke angka Rp 13.800 (kondisi hari ini) itu masih undervalue,” ujarnya usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI di Jakarta, Rabu malam (7/10).

Mirza mengungkapkan bahwa perbaikan ekonomi domestik yang dimaksud yakni tingkat inflasi yang sesuai target Bank Indonesia, bahkan bisa lebih rendah, serta perbaikan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD). Namun, dia enggan menjelaskan lebih panjang berapa angka fundamental ideal rupiah. ”Jadi misal suatu angka X, lalu terjadi perbaikan fundamental, ya nanti bisa lebih baik angka fundamental itu,” tambahnya.

Mirza juga optimistis bahwa tren positif ini masih akan terus berlanjut. Sebab, lanjutnya, masih ada ruang untuk penguatan rupiah. ”Sebab meski sudah menguat dari level 14.700-14.800 ke level 13.800 itu kan masih undervalue yang masih cukup dalam juga. Jadi kalau kami masih melihat kalau bisa untuk menguat lebih jauh itu kan akan lebih baik,” urainya.

Di sisi lain, dia juga mengungkapkan bahwa penurunan cadev disebabkan oleh upaya BI untuk melakukan stabilisasi nilai tukar. Upaya tersebut, lanjutnya, memang wajib dilakukan oleh BI demi stabilitas ekonomi dalam negeri. ”Jadi ya BI harus masuk untuk stabilisasi karena tugasnya BI ya stabilisasi. September juga BI masuk ke stabilisasi pasar SBN. Jadi kalau cadev turun dalam jumlah yang cukup besar ya karena dipakai untuk stabilisasi. Demi stabilitas negeri inilah,” tuturnya.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Offered Rate (Jisdor) yang dirilis BI menunjukkan, rupiah kemarin ditutup di level 13.809 per USD, menguat 256 poin dibanding penutupan sebelumnya yang masih di posisi 14.065 per USD.

Sementara itu, di pasar spot, rupiah yang sudah menguat tajam dalam tiga hari terakhir, akhirnya sedikit melemah 66 poin ke posisi 13.887 per USD. Sepanjang hari kemarin, mata uang yang sebelumnya mencatat penguatan tajam terhadap USD juga mulai terkonsolidasi dan sedikit melemah, seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, maupun rupee India.

Konsolidasi juga terjadi di pasar modal. Kekuatan naik pasar saham Indonesia mulai berkurang setelah empat hari beruntun ditutup di zona hijau. Meski nilai tukar Rupiah masih menguat dan investor asing melanjutkan aksi beli, investor domestik mulai petik keuntungan (profit taking) sehingga Indeks harga saham gabungan (IHSG) hanya mampu naik 4,301 poin (0,096 persen) ke level 4.491,433 pada penutupan perdagangan kemarin.

Kumpulan 45 saham paling likuid dalam indeks LQ45 ditutup naik 1,48 poin (0,19 persen) ke level 768,55. Investor asing kembali mencatatkan aksi belinya sejak awal pekan ini. Pada perdagangan kemarin pembelian bersih investor asing (foreign net buy) sebesar Rp 683,4 miliar. Meskipun secara kumulatif sejak awal tahun sampai dengan kemarin investor asing masih mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 11,164 triliun.

Mulai berkurangnya daya naik bursa saham Indonesia seiring dengan bursa saham Asia yang mulai terkoreksi dan bursa saham Eropa kemarin sore dibuka di zona merah. Begitu juga bursa saham AS yang dibuka turun tadi malam.

Indeks Straits Times (Singapura) ditutup turun 0,50 persen, indeks Nikkei 225 (Jepang) turun 0,99 persen, indeks Hang Seng (Hong Kong) turun 0,71 persen, sebaliknya indeks Composite Shanghai (Tiongkok) menguat 2,97 persen.

Senior Research PT HD Capital, Yuganur Wijanarko, menyebut IHSG sudah masuk daerah jenuh beli pasca menguat sejak awal pekan ini. Maka perlu diwaspadai potensi terjadinya koreksi minor (kecil). ”Kenaikan IHSG selama beberapa hari ini membawa kita ke daerah jenuh beli harian (overbought),” ucapnya, kemarin.

Pelaku pasar yang ingin masuk posisi beli (buy) disarankan tidak terburu-buru. Sebaiknya menunggu koreksi minor terjadi lalu mengejar kenaikan. Pada perdagangan hari ini IHSG diperkirakan bergerak di level support pada rentang 4.435, 4.390, 4.290, 4.173 danresistance di rentang 4.585, 4.621, 4.725.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya, menilai sebaliknya. IHSG hari ini diperkirakan bergerak di kisaran 4.381 – 4.579. Dia optimistis pasar saham dalam negeri masih bisa positif karena investor asing sedang melakukan aksi beli. ”Pergerakan naik IHSG masih diwarnai oleh capital inflow sebagai pendorong penguatan. Ditambah dengan apresiasi nilai tukar dan paket kebijakan ekonomi yang menjadi bagian dari faktor pendorong menguatnya IHSG,” kata dia, kemarin.

Target resistance IHSG saat ini berada pada level 4.579, menurutnya, berpotensi tercapai dalam waktu dekat. ”Selama support mampu bertahan pada level 4.381, IHSG (hari ini) masih berpotensi melanjutkan penguatan,” yakinnya. (owi/dee/gen/rie)

Check Also

Rupiah Tembus 13.711 per USD

darikita.com, JAKARTA – Penguatan tajam rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus berlanjut. Bahkan di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *