Kamis , 27 Juni 2019
Breaking News
Home / BERITA UTAMA / Buang Sial di Perang Tomat
SRIKANDI TOMAT: Warga mengikuti perang tomat pada gelaran Rempug Tarung Adu Tomat di Kampung Cilareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (4/11). Perang tomat ini merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat

Buang Sial di Perang Tomat

darikita.com, Ratusan orang di Kampung Kareumbi Desa Cikidang Kecamatan Lembang Kabupaten Barat terlibat pertempuran sengit. Tidak ada korban jiwa, namun dua ton tomat habis dalam peperangan tersebut.

Peperangan tersebut memang bukan sungguhan. Warga nyatanya mengikuti bagian dari rempug tarung adu tomat. Ini dipercayai warga sebagai upaya membuang segala macam bentuk hal buruk atau sifat yang tidak baik.

Tidak hanya berharap buang sial, tomat yang digunaakan untuk saling timpuk pun tomat busuk. Itu juga sebagai symbol membuang sifat buruk manusia. Lain-lainnya, sebagai upaya mengenalkan sekaligus memelihara budaya lokal.

Dari pantauaan, sebelum perang tomat dimulai, acara adat lainnya yaitu mengadakan ngaruwat bumi dengan menyembelih seekor kambing di huluwetan atau sumber air. Kemudian darahnya dimasukkan dalam lubang lalu dikubur dengan berbagai macam sesajen di sumber air tersebut yang dilakukan setiap 14 Muharam.

”Sejarahnya, perang ini awalnya karena banyaknya tomat busuk pada musim panen tahun 2011 lalu. Sebab, dibiarkan dan akhirnya jadi busuk lalu warga berpikir bagaimana agar tomat ini bisa bermanfaat,” kata budayawan Sunda Mbah Nanu kepada Bandung Ekspres setelah melakukan perang tomat, kemarin (4/11).

Dia menjelaskan, daripada dibuang akhirnya sejak 2012 tomat-tomat yang busuk ini menjadi ‘peluru’ yang digunakan dalam perang tomat.

Menurutnya, cara menyukuri rezeki dari hasil bumi masyarakat Kampung Cikareumbi dengan mengadakan perang tomat. Dari sejak tahun itulah, setiap tahun warga Kampung Cikareumbi rutin menggelar perang tomat. Tidak hanya diikuti oleh warga setempat saja, namun para penonton juga ikut larut dalam perang-perangan ini.

”Dua kubu masing-masing sepuluh orang. Meski perang ini hanya berlangsung selama setengah jam, namun ribuan tomat yang dilempar oleh dua tim,” tuturnya.

Kedua tim yang berperang, kata dia, wajib mengenakan baju pangsi warna hitam lengkap dengan helm dan tameng yang terbuat dari anyaman bambu. Perang tersebut tidak sekadar melempar atau membuang tomat yang sudah busuk.

”Namun lebih dari itu, kami harap bisa menjadi daya tarik masyarakat luar agar mau datang dan membeli hasil pertanian warga lokal,” tuturnya.

Sebelum puncak peperangan, terlebih dahulu dilakukan arak-arakan yang mengusung berbagai hasil panen sayuran seperti tomat, kol, brokoli, buncis, umbi-umbian, terong, lalapan dan lainnya diwadahi dalam tandu yang dihias. Hasil panen tersebut diarak mengelilingi kampung sambil iringan musik tradisional. (mg5/rie)

Check Also

Benfica vs Bayern Muenchen, Aguias Bakal Putus Rekor Buruk

darikita.com, 1-0. Meski menjadi modal penting bagi langkah Bayern Muenchen menantang Benfica di Estadio da Luz …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *