Kamis , 27 Juni 2019
Breaking News
Home / BERITA UTAMA / Dari Bandung, Untuk Pahlawan
Foto:article.wn.com Alun-alun Kota Bandung

Dari Bandung, Untuk Pahlawan

Tiga nama pahlawan Indonesia yang diapresiasikan dalam bentuk menggunaan namanya pada jalan

darikita.com, Pahlawan memang kerap diidentikan dengan sekelompok orang atau seseorang yang berusaha menumpas keadilan, memberantas kejahatan. Bilamana Power Ranger menjadi salah satu kelompok pahlawan layar kaca ternama pada tahun 90an. Sikap mereka yang menumpas para monster, disinyalir membuat anak-anak yang menontonnya berdecak kagum. Apalagi dengan robot raksasa sebagai akhir dari riwayat sang musuh.

Kata pahlawan yang berartikan orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Dari hal itulah muncul nama-nama tenar bak Ir Soekarno, Moh. Hatta, Pangeran Diponogoro dan masih banyak lagi. Kadang terlupa, namun merekalah yang menjadikan kita seperti ini. Khususnya para pahlawan di Indonesia.

darikita.com kali akan mencoba mengurai pahlawan asal Bandung yang juga menjadi tenar dan diapresiasikan namanya menjadi nama sebuah jalan di sudut kota kembang. Sila nikmati sajian hangat dari kita untuk pahlawan.

dago-bandungIr. R Djoeanda Kartawidjaja adalah salah satu pahlawan yang diabadikan menjadi nama jalan ternama di Bandung. Walau terkenal dengan Dago, namun nama sang pahlawan ini selalu terpatri kala melalui jalan yang kerap dijadikan tempat nongkrong kala sabtu malam menjelang. Tak berlebihan, sepanjang jalan ini, selalu penuh, selain banyak Factory Outlet, ada beberapa tempat makan dan terpampang tulisan DAGO yang terkenal itu.

Kembali pada masa jaya sang pahlawan, beliau merupakan Perdana Menteri Indonesia terakhir yang dimiliki. Sederet jabatan penting negara ini disuguhkan kepada tangan dingin sang pahlawan bangsa. Sebelum Perdana Menteri, beliau menjabat menjadi Menteri Perhubungan, Menteri Perairan, Menteri Kemakmuran, Keuangan dan Pertahanan. Ada jabatan penting lainnya seperti Ketua Panitia Ekonomi dan Keuangan pada Konferensi Meja Bundar.

Puncaknya, beliau menyuarakan, Deklarasi Djuanda pada tahun 1957. Isinya, sebagai berikut; laut Indonesia, termasuk laut sekitar dan segala kepulauan di dalamnya merupakan wilayah kesatuan negara Republik Indonesia. Keberhasilan tersebut diikuti dengan Indonesia diakui sebagai negara kepulauan oleh United Nations Convention on Law of The Sea.
(Ir. R. Djoeanda Kartawidjaja, 14 Januari 1911, Tasikmalaya)

Jalan R.E. Martadinata
Jalan R.E. Martadinata

Mari pindah ke jalan ramai lainnya di sudut kota. Terkenal dengan sebutan jalan Riau, menjadi pusat perbelanjaan selain daerah Cihampelas. R.E. Martadinata. Bila Ir. H. Juanda merupakan penggagas Deklarasi kelautan wilayah di Indonesia, R.E. Martadinata merupakan panglima angkatan laut pada peristiwa ternama G30S. Beliau menjadi salah satu pahlawan yang memimpin penumpasan anggora PKI pada saat itu.

Beliau, tewas pada saat helikopter yang ditumpanginya menabrak bukit pada tahun 1966. Walau pahlawan selalu diidentikan dengan kata ‘gugur’, namun mereka akan tetap berada dalam hati rakyat Indonesia. Sebagai pengingat, selain masuk dalam pelajaran anak sekolahan. Dipakai penggunaan jalan, dijadikan salah satu bentuk apresiasi pada para pahlawan yang telah gugur dengan membawa harum namanya dan nama negara ini.
(R.E. Martadinata, Bandung 29 Maret 1921)

Pahlawan kali ini merupakan salah satu pahlawan wanita yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita. Kepahlawanannya ini, beliau tumbuhkan karena menilai kaum wanita kurang dan bahkan tidak diberikan pendidikan yang layak.

Jalan Dewi Sartika
Jalan Dewi Sartika

Walau beliau berasal dari keluarga ningrat, yang saat itu dapat mengayomi pendidikan yang layak, tak henti di situ saja, beliau bagikan ilmunya kepada wanita lain dengan memberikan pelajaran membaca dan menulis pada 1902. Dari situlah, beliau mendobrak keterbelakangan kaum wanita pribumi pada saat itu. Sebagai bentuk apresiasi, Dewi Sartika dijadikan salah satu nama di pusat Kota Bandung.
(Dewi Sartika, Bandung, 4 Desember 1984)

Begitulah tiga nama dari banyak pahlawan yang dijadikan nama jalan di Kota Bandung. Bila ditilik, ketiga pahlawan berikut memiliki jalan yang berbeda. Ada yang langsung terjun ke medan perang, melalui politik dan pendidikan.

Begitu pula, bagaimana kita melihat pahlawan sesungguhnya pada kehidupan sehari-hari. Berbagai pahlawan kerap kita temukan, dari rumah hingga tempat dimana orang tidak menyadarinya. Penulis merasa, pahlawan terbentuk karena sebuah inisiatif. Bukan karena akan dijadikan nama jalan atau dipampang dalam buku sekolah dasar pelajaran IPS. Tapi dari hati, itu sendiri yang membedakan mana pahlawan layar kaca yang hanya memakai kostum dan ledakan spektakuler, dan mana yang pahlawan tanpa tanda jasa. Selamat Hari Pahlawan!

Memorable Mentions: Mohammad Toha (Bandung, 1927) dan Otto Iskandar Dinata (Bojong soang, 31 Maret 1897)

(Ravi/dk)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *