Kamis , 27 Juni 2019
Breaking News
Home / BERITA UTAMA / Dari Pentas Seni hingga Jual Air Kotor
DOKUMENTASI ICYEP UNTUK BANDUNG EKSPRES MUDA DAN PEDULI: Alumni Indonesia China Youth Exchange Program (ICYEP) 2015 berkumpul usai menggalang dana dalam aksi Hands for Haze untuk korban asap yang melanda wilayah Riau dan sekitarnya di kawasan Dago (11/10).

Dari Pentas Seni hingga Jual Air Kotor

Aksi Warga Bandung Galang Dana untuk Korban Asap di Riau

darikita.com, KUALITAS udara di provinsi Riau dan sekitarnya sudah sangat mengkhawatirkan. Berbagai upaya pun dilakukan warga Indonesia di bagian lain untuk membantu. Tak terkecuali di Kota Bandung.

Sejumlah komunitas menunjukkan aksinya untuk Riau. Salah satunya Indonesia China Youth Exchange Program (ICYEP) 2015. Program bentukan Kemenpora ini berisi pemuda-pemudi aktivis, mahasiswa, atau entrepreneur yang pernah mengikuti pertukaran ke negara Tiongkok. Melalui aksi Hands for Haze, mereka menggalang dana untuk membantu warga Riau dan sekitarnya.

Reno Andifa Hasan, 21, salah satu alumni ICYEP menjelaskan, Hands for Haze ini sudah dilakukan selama tiga hari sejak Jumat (9/10). Dalam tiga hari itu, sudah terkumpul dana sebanyak Rp 7 juta. Nantinya dana tersebut akan disalurkan kepada warga yang terkena kabut asap melalui relawan Pekanbaru.

’’Ada lima daerah yang masuk zona merah kabut asap. Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan. Semua dana akan disalurkan ke daerah tersebut dalam bentuk uang tunai,’’ terangnya saat ditemui Bandung Ekspres di Jalan Ir H Djuanda kemarin (11/10).

Nantinya, uang tersebut akan dibelikan masker, vitamin, susu, dan tanaman Sanseviera atau Lidah Mertua. Dibanding tumbuhan lain, Sanseviera memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun, seperti karbondioksida, benzene, formaldehyde, dan trichloroethylene. ’’Gelombang pertama disalurkan pada 13 Oktober. Nanti ada lagi gelombang kedua,’’ ujar Reno.

Aksi ini tidak hanya dilakukan alumi ICYEP di Kota Bandung. Jakarta dan Bali pun berupaya serupa. Bahkan, di Bali, para alumni menggalang dana melalui pentas seni. Melalui aksi ini pula, alumni ICYEP bisa mempraktikkan ilmu yang dipelajari di Tiongkok. ’’Kita belajar leadership juga di Tiongkok, dan ini salah satu implementasi sekaligus kontribusi kami kepada masyarakat,’’ jelasnya.

Selain itu menurut Reno, di saat seperti ini sudah saatnya pemuda bergerak. Artinya, jangan hanya menuntut aksi dari pemerintah. Pemuda harus peduli. ’’Kita juga berharap ada komunitas atau pemuda-pemudi lain yang ingin bekerjasama dengan kami,’’ tandasnya.

Aksi serupa juga dilakukan Rumah Amal Salman ITB. Bertajuk Gerakan Berbagi O2, warga bisa membantu memberi dua tabung O2 jenis N95 setiap berdonasi Rp 100 ribu. Sejak di-launching Jumat (9/10) lalu, sudah terkumpul dana Rp 10 juta. ’’Kita dibantu relawan juga. Mereka tersebar di kampus-kampus dan daerah terpencil,’’ jelas Miftah, salah satu teller Rumah Amal kemarin (11/10).

Selain itu, beberapa relawan Rumah Amal juga menjual air kotor. Air ini sebagai perumpamaan bahwa selain udara di sana membahayakan kesehatan, airnya pun sangat kotor. Sehingga, aksi ini sebagai reminder bahwa warga Bandung harus bersyukur masih bisa menghirup udara segar dan menggunakan air bersih. ’’Sementara saudara-saudara kita di sana (Riau) mau bernafas saja susah,’’ katanya.

Namun, sejauh ini, dana tersebut belum akan disalurkan kepada warga Riau dan sekitarnya. Pasalnya, para relawan masih jemput bola mencari dana agar bantuan yang dikirim lebih banyak. Lain halnya dengan komunitas BerbagiNasi. Sebanyak 5.000 masker khusus akan segera dibagikan kepada warga zona merah asap melalui aksi Melawan Asap. Adapun donasi sudah dibuka sejak Senin (5/10) lalu. ’’Hanya dengan Rp 10 ribu, masyarakat sudah bisa menyumbang untuk masker ini,’’ tandas Danang, salah satu founder BerbagiNasi.(tam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *