Senin , 17 Juni 2019
Breaking News
Home / BERITA UTAMA / Dikenal sebagai Ali Jangkung
Fajri Achmad NF / Bandung Ekspres TEMPAT BELAJAR AGAMA: Anak-anak bermain di kawasan Pondok Pesantren Al-Jawami, Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Kamis (19/11). Salah satu tersangka teror bom di Paris bernama Frederick C Jean Salvi (41) sempat berkunjung ke Ponpes ini.

Dikenal sebagai Ali Jangkung

Frederick Sempat Ingin Jual Mobil kepada Pimpinan Ponpes Al-Jawami

darikita.com, Salah satu tersangka teror bom di Paris, Frederick C Jean Salvi, 41, dikabarkan pernah tinggal di Bandung, Jawa Barat. Dia tinggal di Kota Kembang tersebut selama lima bulan. Dalam rentang waktu itu, dia kerap mendatangi sejumlah pondok pesantren (ponpes). Salah satunya Ponpes Al-Jawami di kawasan Cileunyi.

Frederick C Jean Salvi alias Ali Jangkung Tersangka Teror Bom Paris
Frederick C Jean Salvi alias Ali Jangkung
Tersangka Teror Bom Paris

Kedatangan pria yang kerap dipanggil Ali Jangkung ini pada rentang waktu tahun 2005 hingga 2010. Hal itu dikatakan Kiai Haji Imang Abdul Hamid, Pimpinan Ponpes Al-Jawami. Namun, Imang mengaku bahwa Frederick tidak pernah menyebutkan nama aslinya.

’’Saya tahu kalau orang Perancis itu bernama Frederick dari polisi yang datang ke rumah, yang menanyakan kebenarannya kalau Frederick pernah berkunjung,” jelasnya saat ditemuiBandung Ekspres di kediamannya, Kampung Sindangsari RT/RW 03/21, Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, kemarin (19/11).

Meski pernah berkunjung, Imang mengungkapkan, Frederick tidak pernah lama-lama di tempatnya. Apalagi sampai menginap. Sebab, dalam empat kali kunjungannya, Frederick tidak pernah berkunjung lebih dari satu jam. Namun, menurut Imang, Frederick sempat datang bersama keluarganya. Yakni, istri dan kedua anak perempuannya yang berumur sekitar 7 tahun dan 5 tahun.

Imang mengungkapkan, dalam kunjungannya yang keempat itu, Frederick juga sempat minta izin untuk pulang ke Maroko karena istrinya berasal dari negara tersebut. Sejak itu, Frederick tidak pernah datang kembali ke Ponpes Al–Jawami. Memberi kabar pun tidak pernah.

’’Memang saat akan pulang, dia sempat menawarkan kendaraannya jenis Mitsubushi Gallant tahun 1980an untuk dijual ke saya. Tapi saya tolak karena saya pun sudah memiliki kendaraan,” jelas Imang yang juga mantan Kepala Desa Cileunyi Wetan era 1990an ini.

Dia menjelaskan, Frederick yang berperawakan tinggi kurus dengan janggut tipis itu, tidak pernah mengenyam ilmu di Ponpes miliknya. Kedatangannya saat itu hanya ingin mengetahui ilmu agama. Sekaligus bertanya bagaimana pola pendidikan yang diterapkan di Ponpes Al-Jawami.

Karena Frederick adalah tamu, maka Imang merasa harus menerimanya dengan baik. ’’Dan saya tidak pernah berpikiran kalau orang itu ternyata merupakan target polisi yang terlibat aksi teror,” tegasnya.

Kunjungan Frederick ke Al-Jawami juga diketahui oleh Sutrisno, tokoh masyarakat setempat. Saat Frederick berkunjung, Sutrisno sedang mengikuti pengajian di Ponpes Al-Jawami. Seseorang yang mengantar Frederick saat itu mengatakan bahwa temannya ingin menimba ilmu Islam lebih dalam. Namun, karena tidak bisa berbicara bahasa Indonesia dan Arab, Frederick dan temannya langsung izin untuk kembali pulang.

Menurut Sutrisno, wajar jika Imang menerima Frederick dengan tangan terbuka. Sebab, sesuai ajaran Nabi, sudah sepantasnya memuliakan tamu. ’’Siapapun yang datang ke Ponpes, pasti Pak Kiai akan menerimanya dengan baik, karena beliau merupakan tokoh ulama di Cileunyi yang memang menjadi panutan di wilayah ini. Bahkan, orangtua beliau KH Mama Sujai dulunya merupakan Ketua MUI Jabar yang pertama,” jelas pria yang akrab disapa Trisno ini.

Sementara itu, Munir salah satu santri Ponpes Al-Jawami memaparkan, keseharian dirinya bersama 380 santri lain tidak lepas dari kegiatan keagamaan. Sebab, setiap hari semua penghuni Ponpes selalu mengaji bersama. Hal ini dilakukan setiap subuh, sore dan malam hari.

Semua hal yang dilakukan di Ponpes tidak ada hubungannya dengan terorisme. Apalagi, sampai belajar merakit bom. Di Ponpes Al-Jawami, semua santri hanya belajar agama untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Hampir semua santri yang mondok di Ponpes Al-Jawami merupakan mahasiswa yang kuliah di sekitar Bandung dan Jatinangor. ’’Kegiatan keseharian kami tidak lepas dari pengajian,” jelas Munir yang juga Mahasiswa UIN Bandung ini.

Sementara Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) Irfan Idris menuturkan, informasi terkait terduga tersangka teror Paris pernah ke Bandung sudah ditelusuri oleh BNPT. Memang Jean Salvi ini pernah ke pesantren tersebut. ’’Namun, saat kunjungan itu pada 2010 memang belum ada ISIS. Kami sudah bertemu dengan pimpinan pesantrennya,’’ ujarnya.

Dia menuturkan, dengan begitu dapat dipastikan bahwa tidak ada indikasi anggota ISIS yang lainnya di pesantren yang pernah dikunjungi tersebut. ’’Soal pembicaraannya, sama sekali tidak ada perbincangan soal ISIS,’’ paparnya saat dihubungi wartawan kemarin.

Kejadian tersebut dapat menjadi warning untuk semua pihak, bahwa kedatangan orang asing itu mungkin memiliki niatan tertentu. Karena itu kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan. ’’Kalau ada orang asing jangan langsung percaya,’’ ujarnya. (dn/idr/tam)

Check Also

Benfica vs Bayern Muenchen, Aguias Bakal Putus Rekor Buruk

darikita.com, 1-0. Meski menjadi modal penting bagi langkah Bayern Muenchen menantang Benfica di Estadio da Luz …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *