Selasa , 18 Juni 2019
Breaking News
Home / BERITA UTAMA / Google Buka Internet dari Sabang sampai Merauke Secepat di AS
Abdul Rokhim/Jawa Pos PEMBUKA AKSES: Dari kanan, pendiri Google Sergey Brin bersama Presiden Direktur Telkomsel Ririek Adriansyah, CEO Indosat Alex Rusli, dan CEO XL Axiata Dian Siswarini saat acara pengumuman kerja sama Poject Loon ke media di kantor Google X di Mountain View, California, kemarin.

Google Buka Internet dari Sabang sampai Merauke Secepat di AS

darikita.com, Mengakses internet cepat di setiap jengkal tanah di Indonesia, mulai Sabang sampai Merauke, saat ini masih menjadi impian. Raksasa telekomunikasi Google membuka kemungkinan impian itu menjadi kenyataan melalui Project Loon. Yaitu, proyek pengadaan akses internet lewat balon. Proyek tersebut diumumkan secara resmi untuk dimulai kemarin.

Lewat proyek itu, Google akan menerbangkan ratusan balon dengan pemancar internet ke seluruh wilayah Indonesia yang selama ini sulit mendapat akses karena sulitnya pembangunan menara pemancar di sana.

Jawa Pos (induk Bandung Ekspres) yang hadir di kompleks kantor Google (Googleplex) menyaksikan Google sangat bergembira menyambut proyek tersebut. Untuk mengungkapkannya, sebuah seremoni istimewa namun sederhana diselenggarakan di tempat yang selama ini dikenal paling tertutup karena dikhususkan untuk menggarap proyek-proyek rahasia Google tersebut. Yakni halaman dalam Google X di Mountain View, California, kemarin waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Acara pada sore yang cerah itu semakin spesial ketika salah seorang pendiri dan orang nomor satu Google, Sergey Brin, di luar dugaan hadir langsung untuk memberikan sambutan dan ikut dalam jumpa pers. Aktivitas yang sangat jarang dilakukan Brin yang kini semakin sibuk karena memimpin perusahaan Alphabet, perusahaan induk Google.

Suguhan sate, buah, dan kue-kue supersehat dari Google membuat acara setengah jam itu berlangsung meriah, namun tetap khidmat. Kekecewaan tim eksekutif Google atas pembatalan mendadak kunjungan Presiden Jokowi yang sebelumnya muncul tidak terlihat lagi.

Saat memberikan sambutan, Brin langsung menyatakan terima kasih kepada perwakilan pengusaha dan pemerintah Indonesia yang datang jauh-jauh ke kantornya untuk sebuah momen terpenting bagi Google. Dia menyebutkan, Project Loon di Indonesia merupakan kesempatan bagi Google untuk mewujudkan salah satu misi terbesar mereka, yakni memberikan akses internet kepada sebanyak-banyaknya orang di dunia.

”Jarak yang memisahkan rakyat Indonesia secara fisik yang selama ini merenggangkan ikatan emosional di antara mereka sebentar lagi berakhir,” ujar Brin yang tampil santai dengan kostum joging, bersepatu kets biru merek Asics, dan bercelana sport pendek.

Selanjutnya, dia mengingatkan, banyak warga di pulau-pulau seperti di Indonesia yang harus menaiki bukit agar mendapat sinyal. ”Dalam kehidupan sehari-hari, keluar dari jangkauan komunikasi adalah hal yang menyehatkan bagi kita,” ungkap Brin.

”Namun, kalau tidak memiliki akses informasi dan kemampuan berkomunikasi dengan orang-orang terpenting tersebut terjadi dalam kehidupan sehari-hari, itu adalah problem yang harus dicarikan jalan keluar,” lanjut Brin yang bersama koleganya, Larry Page, membangun Google dari sebuah garasi 17 tahun lampau dan kini menjadi ikon Silicon Valley.

Google memulai uji coba Project Loon tahun depan dan akan berlangsung selama 12 bulan. ”Kami tidak punya misi komersial dalam proyek ini,” tegas Mike Cassidy, vice president Project Loon Google.

Untuk menjalankan Project Loon, Google menggandeng mitra lokal, yakni tiga operator terbesar di Indonesia, Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat. ”Kami berfokus menyediakan balon. Sedangkan mereka akan mengurusi aspek komersial, mulai marketing, distribusi, hingga billing (penentuan tarif, Red),” jelas Cassidy yang didampingi Presiden Direktur Telkomsel Ririek Adriansyah, CEO Indosat Alex Rusli, dan CEO XL Axiata Dian Siswarini. Berbeda dengan Brin, mereka berempat kemarin hadir dengan setelan formal.

Secepat Amerika

Project Loon atau Loon for All merupakan proyek Google yang dimulai Juni 2013. Indonesia merupakan negara keempat yang dijadikan lokasi uji coba setelah Selandia Baru, Australia, dan Brasil. Proyek itu bertujuan meningkatkan atau memperluas daya jangkau sinyal pemancar seluler dengan menggunakan balon udara untuk mengakses data melalui internet seperti yang selama ini dipancarkan lewat menara based transmission station (BTS) atau lewat jaringan kabel serat optik.

Dalam proyek tersebut, Google menerbangkan balon udara berisi helium dan membawa perangkat pemancar internet mengangkasa di ketinggian dua kali ketinggian terbang rata-rata pesawat komersial atau 20 kilometer di atas permukaan bumi.

Balon dengan diameter 12 meter itu berfungsi sebagai menara BTS terbang. Dengan balon Google yang mampu menjangkau wilayah hingga 40 kilometer di bawahnya tersebut, pengguna internet mendapat saluran seperti wifi untuk download data dan aplikasi dengan kecepatan hingga 10 Mbps atau hanya 1 persen di bawah kecepatan rata-rata download internet di Amerika.

Jika terealisasi, Project Loon bakal memecahkan persoalan akses dan konektivitas di 17 ribu pulau di Indonesia yang terdiri atas hutan dan pegunungan.

Berapa balon yang akan diterbangkan Google dari Sabang sampai Merauke? Cassidy menyebutkan, dalam tahap awal, ada ratusan balon yang akan diterbangkan. Jika hasil uji coba memuaskan, kepada media Inggris Guardian, Cassidy menyatakan siap menerbangkan hingga 20 ribu balon internet yang akan menghiasi langit Indonesia.

Tentu tidak murah untuk menyediakan balon dengan perangkat pemancar khusus hingga puluhan ribu tersebut. Namun, dalam peresmian proyek kemarin, tidak seorang pun eksekutif Google yang bersedia menyebutkan dana investasi yang disiapkan untuk Project Loon di Indonesia.

Tentu bukan Google jika tidak bisa melihat potensi ”gunung emas” lebih dulu dibandingkan pesaing-pesaingnya. Dengan membuka akses internet seluas-luasnya di Indonesia, Google akan mendapat potensi market langsung sampai 100 juta orang. Mereka adalah pasar potensial yang siap dimasuki produk-produk Google seperti handphone Android, situs search engine Google, dan situs video online YouTube yang akan mendapat tambahan potensi pengakses yang melimpah.

Karena itu, seandainya mencapai triliunan rupiah pun, dana Project Loon tersebut sebanding dengan kenaikan nilai perusahaan yang didapat Google. ”Indonesia adalah tempat yang sempurna bagi Project Loon,” ujar Cassidy senang.

Operator Masam

Bagaimana tanggapan para mitra lokal? Tidak seperti Sergey Brin dan Mike Cassidy yang begitu bersemangat, tiga pucuk pimpinan operator seluler terlihat kurang antusias dalam acara pencanangan Project Loon Google kemarin.

Memang, sebelum penekenan MoU kemarin, sempat muncul kekhawatiran di antara operator bahwa teknologi balon internet Google akan memakan kue bisnis data internet mereka. Padahal, sebelum Google membawa proposal kerja sama, mereka mengeluarkan investasi besar untuk membangun menara BTS di pelosok Indonesia.

Saat dikonfirmasi setelah acara, Dirut Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat kompak menegaskan bahwa mereka mendukung Project Loon. Namun, dukungan itu sebatas uji coba teknis. Belum ada kesepakatan komersial di antara mereka dengan Google.

”Meski demikian, kami mendukung proyek ini karena merupakan salah satu inovasi yang membantu penyebaran internet ke daerah-daerah yang sulit dijangkau dan berpenduduk sedikit,” jelas Direktur Utama Telkomsel Ririek Ardiansyah berdiplomasi.

Dia menegaskan, selama uji coba berlangsung, Telkomsel mengendalikan penuh akses internet yang didapat dari Project Loon. Telkomsel melakukan kontrol melalui infrastruktur backbone SMPC (Sulawesi, Maluku, Papua Cable System).

Senada dengan Ririek, Dirut XL Axiata Dian Siswarini menyatakan, kerja sama penyediaan balon internet antara perusahaannya dan Google masih dalam uji teknis.

”Jadi, kami masih mempelajari skema teknologi dan bisnisnya sampai nanti diputuskan ada kerja sama komersial,” kata Dian yang hadir di kantor Google X dengan baju bermotif etnik ungu.

Sementara itu, kekhawatiran bahwa kehadiran Project Loon akan mengurangi legit bisnis seluler di tanah air dibantah CEO Indosat Alexander Rusli.”Tidak lah. Ini kan pakai frekuensi kita (operator, Red). Jadi, (balon internet Google, Red) seperti vendor BTS saja,” tegasnya.

Lebih jauh, Alex-sapaan Alexander Rusli-menambahkan, ada bagusnya juga bagi operator seluler jika Project Loon Google sukses di Indonesia. ”Kalau bagus, less capex (belanja modal lebih ringan, Red) dan ubiquitous coverage of LTE (membantu penyebaran cakupan LTE, Red),” jelas Alex yang juga ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI).

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara yang datang ke Google X setelah Sergey Brin pergi juga menggarisbawahi penegasan para CEO operator seluler bahwa kerja sama Google akan dilihat lebih jauh setelah uji coba teknis selesai.

”Ini adalah keputusan strategis. Setidaknya operator telekomunikasi di Indonesia harus menjadi bagian. Paling tidak mengetahui aspek teknisnya,” ujar Rudiantara yang datang bersama Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEK) Triawan Munaf, serta Kepala BKPM Franky Sibarani.

Rudiantara yang baru datang 15 menit di kantor Google X buru-buru pamit pergi dan menolak menjawab saat ditanya tentang wilayah mana saja di Indonesia yang disodorkan kepada Google untuk diterbangi balon, frekuensi apa yang digunakan, dan bentuk evaluasi ke Google setelah masa uji coba berakhir. Kabar dari stafnya, mantan petinggi di XL itu harus segera menghadiri acara di kantor Facebook. (*/rie)

Check Also

Benfica vs Bayern Muenchen, Aguias Bakal Putus Rekor Buruk

darikita.com, 1-0. Meski menjadi modal penting bagi langkah Bayern Muenchen menantang Benfica di Estadio da Luz …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *