Senin , 17 Juni 2019
Breaking News
Home / Kriminal / Kekejaman Margriet kepada Engeline Terungkap

Kekejaman Margriet kepada Engeline Terungkap

darikita.com, DENPASAR – Tabir peristiwa yang mengakibatkan tewasnya bocah Engeline terungkap satu per satu di pengadilan. Yang terbaru, dua penghuni kos di rumah ibu angkat Engeline, Margriet, yakni pasangan suami istri Susiani dan Handono, mengungkap perlakuan kejam Margriet kepada Engeline pada sidang di Pengadilan Negeri Denpasar kemarin (3/11).

Radar Bali (Bandung Ekspres Group) melaporkan, pada sidang dengan terdakwa Agustinus Tay tersebut, Susiani dan Handono mengaku sering melihat dan mendengar Margriet melakukan tindakan kekerasan dan eksploitasi terhadap Engeline. Susiani menerangkan, sejak 15 Mei 2015, sebelum mendapat kabar Engeline hilang, dirinya mengaku sering mendengar jerit tangis korban pukul 08.00. ”Saya mendengarnya sebelum pergi membeli perlengkapan jualan,” ungkap Susiani.

Kemudian, saat pukul 09.00 sepulang dari belanja, Susiani mengetahui melalui cerita Agus bahwa Engeline ditampar berkali-kali hingga mengeluarkan darah dari hidung dan telinga. ”Saya pernah berkali-kali menyarankan Margriet agar mendidik Engeline dengan sabar, tapi dia malah menyahut bahwa dia melakukan itu supaya Engeline jadi anak yang pintar,” ucap Susiani.

Susiani dan suaminya menerangkan bahwa Engeline setiap hari harus bangun sebelum pukul 06.00, kemudian memberi makan 100 ekor ayam, 20 ekor kucing, dan 5 ekor anjing. Margriet sendiri malah bangun siang pada pukul 08.00 lewat. Sorenya bersama Agus, Engeline mencuci tempat minum dan makan hewan-hewan peliharaan Margriet hingga pukul 21.00. ”Jadi, Margriet bangun siang, Engeline sekolah tidak sarapan? tanya Edward Harris, ketua majelis hakim, kepada kedua saksi.

Handono menanggapi bahwa dirinya kerap melihat pakaian Engeline lusuh dan kotor saat berangkat sekolah. ”Dia sehat, tetapi kurus sekali. Selain itu, dia jalan kaki pergi pulang sekolah yang jaraknya kurang lebih dua kilometer,” ucap Handono.

Selain itu, Susiani mengaku sejak 15 Mei 2015, dirinya dan suami tidak pernah bertemu dengan Engeline. Kemudian, pada 16 Mei 2015 saat pulang kerja, Susiani bersama suami mengaku dihadang Margriet dan Agus yang mengatakan bahwa Engeline telah hilang. Namun, kata dia, tidak ada sama sekali wajah kekhawatiran dari Margriet. Karena itu, Handono merasa Engeline masih berada di rumah tersebut. ”Anak itu tidak pernah keluar rumah atau main sama teman lainnya. Setiap hari kerjanya mengurusi hewan,” katanya. Saat santai sedikit sambil bermain sendiri di dekat mobil, Engeline pasti diteriaki Margriet. ”Kamu santai-santai ya, awas nggak dapat makan kamu,” ucap Susiani meniru gaya Margriet saat memarahi Engeline.

Handono dan Susiani menjelaskan, saat Engeline masih TK, Margriet terlihat sangat menyayangi korban. Namun, semuanya berubah ketika Engeline naik kelas I SD dan Margriet mulai beternak ayam. ”Sejak banyak ayam, Margriet jadi berubah sifatnya kepada Engeline,” ucap Susiani.

Dalam sidang tersebut, Agus sama sekali tidak menyangkal kesaksian Susiani dan Handono. Agus hanya menambahkan, ketika usai mengubur jenazah Engeline, Margriet menghampirinya ke dalam kamar. Margriet bilang kepada Agus, ”Tolong kalau Ibu Susiani tanya, jangan bilang kalau Engeline aku yang mukulin”.

Tolak Eksepsi

Sementara itu, pada sidang dengan terdakwa Margriet, ketua majelis hakim Edward Harris Sinaga memutuskan menolak eksepsi berjudul Tuhan Pasti Turun Tangan yang dilayangkan dua minggu lalu oleh pihak kuasa hukum Margriet Megawe, yakni Hotma Sitompul.

Penolakan eksepsi tersebut terkait dengan delapan poin. Di antaranya, pernyataan fitnah terhadap Arist Merdeka Sirait dari Komnas Perlindungan Anak; sejumlah tindakan kontroversial dan pernyataan fitnah terhadap Siti Sapurah alias Ipung, anggota P2TP2A Denpasar; komentar anggota dewan (DPR RI) yang berujung kekisruhan; kemudian menolak kedatangan dua menteri ke rumah Margriet di Jalan Sedap Malam, Denpasar.

Selanjutnya, ada pernyataan guru di sekolah Engeline yang mengatakan kerap menemukan luka memar pada tubuh korban, Kapolda Bali yang menyatakan agar menetapkan Margriet sebagai terdakwa meski dengan tidak cukup bukti, kemudian tidak ditemukannya maksud terdakwa untuk melakukan pembunuhan, serta keterangan Agustinus Tay justru dijadikan sebagai dasar penetapan Margriet sebagai tersangka.

Selain itu, hakim ketua mengatakan, penasihat hukum terdakwa Margriet tidak menerima penggunaan saksi mahkota karena bertentangan dengan KUHAP.

Selanjutnya, hakim ketua menyatakan sidang akan dilanjutkan Selasa (10/11) dengan agenda pemeriksaan saksi. Namun, dalam kesempatan tersebut, Dion Pongkor selaku kuasa hukum Margriet meminta kepada pihak majelis hakim untuk menginformasikan siapa saja saksi yang akan dibawa ke persidangan. ”Kami mohon majelis hakim untuk bersedia memberikan informasi tiga hari sebelum sidang agar kami bisa menyiapkan segala keperluan kami,” ucap Dion Pongkor. (ika/yor/yes/c6/kim/rie)

Check Also

Benfica vs Bayern Muenchen, Aguias Bakal Putus Rekor Buruk

darikita.com, 1-0. Meski menjadi modal penting bagi langkah Bayern Muenchen menantang Benfica di Estadio da Luz …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *