Senin , 17 Juni 2019
Breaking News
Home / BERITA UTAMA / Kereta Cepat Terlaksana
HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS SEGERA DIBANGUN: Perusahaan China Railway Corporation menggelar Pameran Kereta Api Kecepatan Tinggi China di Atrium Senayan City, Jakarta, Kamis (13/8) lalu. Pameran yang mengambil tema "Kereta Api Kecepatan Tinggi Tiongkok yang Berkembang Pesat" ini memperkenalkan perkembangan kemahiran Tiongkok dalam bidang survei dan desain transportasi yang berlangsung 13-16 Agustus 2015.

Kereta Cepat Terlaksana

HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS SEGERA DIBANGUN: Perusahaan China Railway Corporation menggelar Pameran Kereta Api Kecepatan Tinggi China di Atrium Senayan City, Jakarta, Kamis (13/8) lalu. Pameran yang mengambil tema "Kereta Api Kecepatan Tinggi Tiongkok yang Berkembang Pesat" ini memperkenalkan perkembangan kemahiran Tiongkok dalam bidang survei dan desain transportasi yang berlangsung 13-16 Agustus 2015.
HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS
SEGERA DIBANGUN: Perusahaan China Railway Corporation menggelar Pameran Kereta Api Kecepatan Tinggi China di Atrium Senayan City, Jakarta, Kamis (13/8) lalu. Pameran yang mengambil tema “Kereta Api Kecepatan Tinggi Tiongkok yang Berkembang Pesat” ini memperkenalkan perkembangan kemahiran Tiongkok dalam bidang survei dan desain transportasi yang berlangsung 13-16 Agustus 2015.
China-BUMN Garap HSR Jakarta-Bandung

darikita.com, Jakarta – China dipastikan menjadi investor kereta cepat Jakarta-Bandung dengan nilai US$ 5,5 miliar, atau sekitar Rp 80 triliun,. Tidak akan ada dana pemerintah dan jaminan negara dalam proyek ini.

”Sepemahaman saya high speed rail (HSR) di atas 250 kilometer per jam. Jalur Jakarta-Bandung cukup atraktif bagi penumpang, maka butuh kecepatan minimum 250 kilogram per jam,” papar Menteri BUMN Rini Soemarno dalam Press Gathering di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, kemarin (1/10).

”Pilihan kami di antara kedua tawaran tersebut sangat menaruh poin penting pada struktur finansial. Medium speed itu cerita lain lagi. Ini HSR,” tambah Rini.

Rini menegaskan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak pernah membatalkan atau menolak proyek tersebut. Namun, Jokowi tidak mau menggunakan uang dan jaminan negara dalam proyek tersebut.

Dengan hadirnya investor China, otomatis menyingkirkan Jepang yang tidak bisa menggarap proyek ini tanpa anggaran dan jaminan dari pemerintah.

”Ini B to B transaksi. Ini joint venture, bukan proyek pemerintah. Betul-betul antar perusahaan BUMN Indonesia dengan China,” ungkap Rini.

Rini mengatakan, proyek kereta cepat ini berbeda dengan mass rapid transit (MRT). Untuk MRT, Jepang menjadi investor dan menggunakan dana negara. Sebab, tujuannya untuk kebutuhan transportasi publik. Sementara kereta cepat adalah untuk bisnis dan transfer teknologi.

”Proposal penawaran HSR yang diterima adalah penawaran yang tidak menggunakan anggaran pemerintah. MRT itu dibangun atas dasar tuntutan pertumbuhan, mendorong ekonomi, infrastruktur, jalur ini harus dibangun,” jelas Rini.

”Pemerintah tidak menolak, pemerintah tidak mau menjadi pelaksana. Itu poin yang harus digarisbawahi,” tambahnya.

Lantas dari mana dana pembangunan tersebut? Rini mengatakan, 75 persen dana akan disalurkan oleh Bank Pembangunan China (China Development Bank/CDB) dan sisanya diambil dari dana hasil joint venture BUMN dengan perusahaan China, yaitu China Railway Corporation.

BUMN yang akan ikut serta adalah PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Jasa Marga Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII.

”Skemanya, jangka waktu pinjaman selama 40 tahun dengan masa tenggang 10 tahun. Kita ingin dapat good return,” jelas Rini.

Namun Rini tidak menjelaskan apa maksud pinjaman berjangka waktu 40 tahun, dan grace period (libur masa menyicil) 10 tahun tersebut. Semua akan dijelaskan Rini bila joint venture dan sistem pembiayaan sudah final.

Proyek ini, menurut Rini, akan menggunakan konten lokal hingga 50 persen. Selain itu juga akan menyerap 39.000 tenaga kerja lokal. ”Bahan baku alumunium sebagian besar akan lokal,” imbuh Rini.

Kemudian, sebanyak 37 persen pendanaan menggunakan mata uang yuan. Dia merinci, dari awal proposal China tidak mencantumkan dana negara dan jaminan pemerintah. Skema kerjasamanya murni dalam bentuk bisnis. Anggaran negara untuk membangun kereta api di luar Jawa.

Sebelumnya, meski mendukung rencana pemerintah, nyatanya PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) masih ragu-ragu untuk membangun kereta api supercepat ’Shinkanzen’ jurusan Jakarta–Bandung. Hal ini disebabkan dengan kontur wilayah Jawa Barat yang berkelok-kelok serta banyaknya persimpangan jalan.

”Secara umum, tentu kami harus mendukung apapun rencana pemerintah (pembangunan kereta api supercepat, Red). Sebab, ini juga meningkatkan daya saing,” kata Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro kepada Bandung Ekspres baru-baru ini.

Jalur Jakarta–Bandung bernilai Rp 80 triliun itu direncanakan sebagai tahap pertama kereta supercepat yang nantinya juga akan terhubung dengan Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Dengan kereta supercepat ini, perjalanan Jakarta-Surabaya dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam. Kereta supercepat Jakarta-Surabaya diperkirakan akan membutuhkan investasi Rp 250 triliun.

Namun demikian, Edi mengaku, masih butuh waktu untuk mengejawantahkan hasrat pemerintah memiliki kereta api (Jakarta-Bandung). Sebab, rel yang digunakan tidak bisa disamakan dengan rel kereta yang sudah ada. Serta dikorelasikan dengan kontur wilayah Jakarta–Bandung.

”Teknis elevasi (derajat lengkung minimal, Red) tidak bisa disamakan. Jika derajatnya terlalu tajam, tentu akan berimbas buruk pada keretanya itu sendiri. Bisa-bisa keluar jalur,” tandasnya.

”Apalagi, kawasan Jawa Barat khususnya (dari dan) ke Bandung itu banyak belokan tajam dan menanjak,” tambah pria menjabat sebagai direktur utama ke-23 PT KAI tersebut.

Pria yang menggantikan posisi Ignasius Jonan itu juga mengatakan, infrastruktur lain yang perlu diperhatikan adalah banyaknya persimpangan di Indonesia. Bahkan, tak sedikit perlintasan yang tidak berpalang pintu. ”Mana bisa cepat kalau banyak berhentinya,” singkatnya.

Dengan kata lain, kata dia, lajur kereta api supercepat tersebut harus dibangun di atas. Dengan begitu, tak mengganggu jalur perlintasan yang sudah ada.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan, saat ini pemerintah masih mencari siapa investor terbaik yang bisa masuk kategori lebih ekonomis dan lebih canggih. ”Itu yang dipilih,” singkat Deddy kepada Bandung Ekspres kemarin.

Pemprov Jawa Barat, kata dia, tentu akan sangat senang jika kereta api supercepat tersebut bisa dibangun. ”Hanya memang harus di atas. Teknis menurut Pak Dirut (Edi) tadi, memang tidak bisa di bawah. Ya namanya cepat ya harus benar-benar cepat,” ujarnya.

”Kalau ternyata dibangun di bawah (di permukaan tanah, Red) seperti saat ini, kalau berangkat dari Jakarta ke Bandung ya bisa jadi 17 orang meninggal, terus 12 kerbau liwat. Apalagi masih banyak perlintasan yang tidak dijaga,” selorohnya sambil tersenyum.

”Sebaiknya memang kalau kereta api supercepat itu juga dibangunan bersebelahan dengan Tol Cisumdawu. Toh tanahnya juga sudah dibebaskan,” tuturnya. (dtc/rie/hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *