Sabtu , 7 Desember 2019
Home / BERITA UTAMA / Kota Kembang Lebih Agamis di HJKB Ke-209

Kota Kembang Lebih Agamis di HJKB Ke-209

BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung berusaha keras untuk menjaga kerukunan beragama di Kota Kembang. Sebab, kerukunan beragama Ibu Kota Provinsi Jawa Barat ini sudah terbangun sejak lama.

”Sedangkan memelihara lebih sulit daripada membangun,” kata Wali Kota Bandung Oded M. Danial di Hotel Grand Preanger, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa (24/9).

Oded M. Danial, Wali Kota Bandung – Yana Mulyana, Wakil Wali Kota Bandung

Oded M. Danial memang memberi pesan khusus bagi warga Kota Bandung yang majemuk, khusus untuk memperingati Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-209.

”Bandung sudah sangat istimewa ketika dibangun oleh para leluhur kita. Dan menjaga kerukunan ini adalah amanah yang mereka berikan kepada kita,” kata Oded.

Oleh karenanya, pria yang akrab disapa Mang Oded itu mengajak, warga Kota Bandung untuk berkolaborasi memahami regulasi dan mendukung program kerja masa pemerintahannya. ”Mang Oded dan Mang Yana dalam hal ini dengan kolaborasi, saya yakin insya Allah, dengan semangat kolaborasi apa-apa yang sulit kita hadapi persoalan-persoalan pasti akan kita hadapi dengan baik dan benar bakal mudah,” katanya lagi.

Dengan nilai kolaborasi tersebut, suami dari Hj. Siti Muntamah, S.AP itu menilai, pemerintah Kota Bandung akan mendapatkan energi yang luar biasa. Termasuk menyukseskan program Bandung Agamis dari berbagai macam cara.

Ayah tujuh orang putri penghafal Alquran itu pun merefleksikan sebagaimana telah dijalankan oleh Pemkot melalui bagian Kesra Kota Bandung dengan melaksanakan salat subuh berjamaah di Masjid Raya Bandung. Kegiatan itu pun mendapat respon positif.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kota Bandung Bambang Sukardi menambahkan, ibadah jamaah tidak hanya dijalankan oleh umat Islam saja. Tapi termasuk di dalamnya, non muslim melaksanakan ibadah dan doa di tempat ibadah masing-masing. Subuh berjamaah pun mendapatkan pengharagaan dari Kementerian Agama Kota Bandung.

”Saat ini di Pemerintahan Wali Kota Bandung Oded M. Danial telah mendapatkan 135 pengharagaan baik tingkat internasional, nasional dan regional,” kata Bambang.

Menurut Bambang, refleksi terpenting dari salat subuh akbar adalah dengan dipadatinya Masjid Agung Kota  Bandung oleh 15 ribu jamaah dari delapan penjuru mata angin. Ada juga para jamaah mengumandangkan doa ajakan Nabi Ibrahim, ”Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik, Innalhamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulk Laa Syarikalak dengan serentak. Diibaratkan miniatur Baitullah.

Menurutnya, jamaah juga berdatangan dari luar Kota Bandung. Di ataranya Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Penanggung Jawab Koordinator KUB Kemenag Kota Bandung Nandang Sukandar mengatakan, dalam menuju kota agamis, Pemerintah Kota Bandung melalui Kemenag Kota Bandung mengalokasi dana hibah bagi 150 guru agama non-muslim.

”jumlahnya Rp 3.600 pertahun, untuk keseluruhan hampir setengah RP 1 miliar atau lebih tepatnya Rp540 juta,” kata Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bandung itu.

Menurut Nandang, jumlah terebut sudah termasuk semua agama non muslim: Kristen, Protestan, Budha, Hindu, dan Konghucu. Dan anggaran tersebut di luar anggran Diniyah.

Dia menilai bantuan tersebut sebagai bukti Pemkot Bandung menyuguhkan kepada toleransi keagamaan yang kuat. Dia juga menambahkan, salah satu indikator kualitas daripada kota agamis ialah peningkatan peraihan prestasi oleh  siswa-siswa sekolah baik itu kegiatan MTQ dan STQ.

”Alhamdulillah, dalam hal ini Kota Bandung selalu mendapatkan peningkatan beberapa prestasi di MTQ dan STQ,” ucap Nandang.

Untuk mendukung program wali kota Bandung, Nandang mengaku, pihaknya merancang program pembinaan 1.000 tahfidz dan penambahan bantuan anggaran bagi Guru Mengaji Magrib (GMM).

”Selama ini guru mengaji juga masih tradisional dan swadaya ya, baik itu pengajaran dan bantuan dana, tidak hanya dana, nanti kita juga didorong fasilitas pengajian,” ujarnya.

Intesitas honorium tersebut juga merespon langkah wacana DPRD Kota Bandung yang hendak menaikkan honorium kepada Guru Mengaji Magrib (GMM).

Dia mengatakan, selama ini honorium belum tersentuh oleh pemerintah. Makanya, pihaknya juga menyiapkan kurikulum meskipun pendidikan non formal harus ada upaya pencapain target.

”Sebelumnya juga pemberian bantua kepada GMM itu Rp 300 ribu, dialokasikan kepada 3.000 GMM, jadi perbulan Rp 360 juta, di luar bantuan bagi madrasah diniyah,” urainya.

Dia berharap, dengan adanya dukungan DPRD Kota Bandung mendukung penganggaran bagi GMM bisa meningkat kisaran Rp 500 ribu bagi satu GMM perbulan.

”Dengan catatan indikasi kualitas guru ngaji tersebut, jam ajar juga bertambah dan melampirkan laporan,” urainya lagi.

Anggota FKUB Agama Konghucu Fam Kiun Fat mengaku, sangat terharu dengan langkah Wali Kota Bandung Oded M. Danial. Dia menceritakan sejak orde baru, baru di zaman kepemimpinan Mang Oded, dia menginjakan kaki di Pendopo.Untuk kali pertama.

”Seumur hidup baru hari ini nginjak Pendopo. Kita mendoakan Kota Bandung aman dan kondusif. Sebab, kita juga bagian dari Kota Bandung, kita bagian dari warga sipil sejak diawali reformasi pada pemerintahan Gus Dur terdahulu,” ungkapnya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik  Kota Bandung Ferdi Ligaswara mengatakan, Kota Bandung memiliki khazanah toleransi tinggi sebagai kota besar.

”Nilai toleransi ini harus dirawat,” tegas Ferdi.

Di sisi lain, Lurah Kelurahan Balonggede Mohammad Sohib mengatakan, kelahiran kampung toleransi di Kelurahan Balonggede sudah sejak lama ada. Dia menilai, secara historis di Kelurahan Balonggede tersebut sudah memiliki kekhasan budaya dan sosial. ”Baik itu Islam, Kristen, Katolik, Hindu Budha dan Konghucu sudah berdampingan dan selalu mengedepankan toleransi,” jelas Sohib.

Dia mencontohkan pada saat pembagian zakat fitrah saat Ramadan. Salah satu peserta panitia pembagi ialah dari masing-masing agama tadi. ”Jadi jangan heran kalau orang menemukan peristiwa itu di kelurahan Balonggede,” jelasnya.

Dengan peresmian kampung toleransi itu, warga semakin antusias. Termasuk saat diajak untuk memeriahkan Hari Jadi Kota Bandung ke-209.

”Sebanyak 150 warga dari Kecamatan Regol termasuk Kelurahan Balonggede akan menyelenggarakan karnaval budaya. Khusus bagi Kelurahan Balonggede akan mengedepankan sisi kampung toleransinya tersendiri, karnval tersebut akan dilaksanakan di Taman Regol pada 28 September 2019,” paparnya. (adv/mg2/rie)

Check Also

Bidang Jasa Masuk E-Katalog

BANDUNG – Untuk mendukung transparansi dalam pengadaan barang dan jasa, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung  mengembangkan Katalog …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *