Jumat , 6 Desember 2019
Home / Bandung Barat Ekspres / Lima Kecamatan Rawan Terjadi Longsor

Lima Kecamatan Rawan Terjadi Longsor

NGAMPRAH– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB), mencatat ada lima kecamatan yang rawan terjadinya longsor dan pergerakan tanah di musim hujan. Kelimanya, adalah Sindangkerta, Cipongkor, Cililin, Parongpong dan Lembang.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Kesiapsiagaan pada BPBD KBB, Agus Rudianto menyebutkan, kelima kecamatan tersebut memiliki potensi longsor yang tinggi, namun tak menutup kemungkinan longsor juga terjadi di 11 kecamatan lainnya.

“Kelima kecamatan tersebut memiliki kondisi geografisnya (dataran tinggi) dan banyak tebing, semua wilayah di KBB ini memang rawan longsor ketika musim hujan, kecuali wilayah Batujajar yang relatif landai,” kata Agus, Minggu (20/10).

Untuk mengatasi hal tersebut, kata Agus, BPBD KBB akan berkoordinasi dengan stakeholder lainnya, guna mengantisipasi bencana yang kemungkinan terjadi saat memasuki musim penghujan nanti.

“Jadi unsur kewilayahan harus mengetahui daerah yang rawan longsor saat musim hujan, karena saat musim hujan itu ancamannya bencana longsor dan banjir. Termasuk kami juga mengimbau agar masyarakat yang tinggal di daerah rawan, selalu waspada,” imbuhnya.

Dirinya menambahkan, biasanya saat musim hujan petugas BPBD dan unsur kewilayahan disiagakan di lokasi yang rawan bencana, dengan dibuatkan posko siaga bencana. Hal tersebut agar memudahkan penanganan apabila sewaktu-waktu bencana terjadi.

Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi pada Oktober 2019 sudah memasuki masa pancaroba, sedangkan musim hujan diprediksi terjadi pada November mendatang.

BPBD KBB juga telah memasang alat intensity meter di sejumlah titik, sebagai upaya mengantisipasi jatuhnya korban akibat gempa Sesar Lembang.

Alat pendeteksi dari Jepang itu dipasang di lima titik yang dilintasi Sesar Lembang sepanjang 29 kilometer. Mulai dari Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung Barat di Kecamatan Ngamprah, Padalarang, Cisarua, Parongpong hingga Lembang.

“Alat itu merupakan pencatat getaran gempa, khususnya di titik yang paling dekat dengan lokasi Sesar Lembang. Nanti getaran gempa akan dicatat dalam satuan Modified Mercalli Intensity (MMI). Alat ini memiliki ukuran yang kecil dan menjadi alternatif kalau tak ada seismometer,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Barat, Duddy Prabowo belum lama ini.

Lewat alat itu, kata Duddy, pihaknya bisa segera memberikan informasi kepada masyarakat untuk melakukan upaya penyelamatan, apabila ada tanda-tanda gempa terjadi di wilayah Sesar Lembang.

“Kami juga sudah melakukan sosialisasi mitigasi bencana Sesar Lembang kepada masyarakat, jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga masyarakat bisa paham saat datangnya gempa untuk sigap menyelamatkan diri,” pungkasnya. (drx)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *