Jumat , 18 Oktober 2019
Home / ENTERTAINMENT / Lima Ribu Peserta Bermain Angklung
HUMAS JABAR UNTUK JABAR EKSPRES BERMAIN SERENTAK: Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat mengajak para peserta Angklung’s Day memainkan angklung di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung, kemarin.

Lima Ribu Peserta Bermain Angklung

BANDUNG – Sebanyak 5 ribu peserta dari 172 grup kesenian dan peminat angklung dari Luar Negeri berkumpul di Halaman Gedung Sate, Bandung, kemarin (18/11). Mereka, secara bersama-sama memainkan alat musik dari bambu, angklung dalam acara Angklung’s Day.

Saking banyaknya jumlah peserta, Record Holders Republic (RHR) mencatat jika kegiatan tersebut paling banyak jumlah pesertanya.

Meski demikian Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyebutkan kegiatan itu tak hanya sekadar pemecahan rekor RHR semata, namun merupakan komitmen sejak angkung dinyatakan sebagai warisan dunia tak benda.

”Pemecahan rekor dunia, oleh institusi rekor RSR, bagi kita bukan soal pecah rekor atau tidak. Tetapi kita sudah bertekad bahwa angklung ini harus mendunia, karena sejak 2010 sudah dinyatakan sebagai warisan dunia tak benda,” kata Ridwan Kamil.

Untuk mewujudkan hal itu, Gubernur yang karib disapa Emil itu pun menyatakan Pemprov Jabar akan memberikan hibah angklung kepada seluruh Kedutaan Besar RI di seluruh dunia. Untuk itu, Gubernur Emil mengaku sudah berupaya berkomunikasi dengan Menlu Retno Marsudi, Wapres Jusuf Kalla, dan Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan, supaya mewajibkan setiap Kedutaan Besar RI di seluruh dunia agar memiliki instrumen angklung.

”Nanti yang bikin Jawa Barat. Karena waktu saya pergi kemana-mana, angklung jadi alat diplomasi paling mudah, paling unik. Angklung juga bisa menyanyikan lagu masing- masing negara. Jadi angklung adalah sumbangan tatar sunda kepada dunia,” katanya.

Selain itu, lanjut Emil, di pusat-pusat kebudayaan yang rencananya akan dibangun di seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat. Akan juga menjadi sarana untuk memperkenalkan angklung sebagai warisan budaya dunia.

”Pusat-pusat budaya akan kita kembangkan, jadi se­perti kalau di Bandung ada Saung Sngklung Udjo. Nanti di 27 Kota/ Kabupaten akan juga diperkenalkan angklung seperti di Udjo,” kata Emil.

Emil berencana, akan me­manfaatkan lahan-lahan di Jawa Barat, yang tidak memi­liki fungsi sosial, untuk ditana­mi bambu sebagai bahan pembuatan alat musik tradi­sional, khususnya angklung.

Sesuai tema angklung’s day tahun ini, yaitu from local to global, peringatan hari ang­klung sedunia menjadi per­wujudan kepedulian rakyat Jawa Barat dalam upaya pe­lestarian dan “ngamumule” salah satu budaya dan seni Sunda, yaitu angklung.

Dimana pengakuan angklung mencapai puncaknya ketika angklung ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dunia (world intangible heri­tage) oleh UNESCO pada tanggal 16 November 2010.

Sehingga, kegiatan angklung’s day merupakan salah satu agenda agar angklung tetap terjaga, terpelihara, terege­nerasikan dan terpromosikan secara luas baik lokal, nasio­nal maupun internasional.

”Keempat poin tersebut mer­upakan syarat mutlak dari UNESCO jika angklung ingin tetap menjadi warisan budaya tak benda dunia,” katanya.

Usai membuka angklung’s day Emil juga mengisi ceramah pada “Milenials Day”, yang diadakan di Gedung Negara Pakuan, Rumah Dinas Guber­nur Jawa Barat, kemarin (18/11).

Pada forum diskusi anak muda milenials Jawa Barat bertema #energimilenials ini, dibahas berbagai isu terkini yang menyoal optimisme pe­muda, rancangan masa depan, isu media sosial, hoax, serta bagaimana jurus seorang mi­lenial menghadapi semuanya secara Islami.

Hadir tokoh dan kelompok/ organisasi kepemudaan Jawa Barat seperti Yana Umar (Panglima Bobotoh), XTC Hijrah, Brigez Road to Jannah, Moonraker, dan GBR Fisabi­lillah. Adapula talkshow Is­lami (I-talkshow) oleh Ustad Budi Prayitno, Ustad Sinyo, dan Ustad Edwin Khadafi.

Gubernur berpesan kepada milenial, menurut dia, para milenial harus memiliki tiga nilai, yakni beriman, berilmu, dan berakhlak.

”Punyailah tiga nilai ini. Saya yakini kalau Anda punya nilai tiga ini. Jangan hanya satu, jangan hanya dua, harus tiga,” kata Emil.

Generasi milenial, haruslah memiliki iman, karena Indo­nesia sendiri merupakan bangsa yang religius. Ketuha­nan Yang Maha Esa telah di­sebutkan dalam sila pertama Pancasila.

”Semua harus punya iman, rajin ke masjid, rajin ke tem­pat ibadah,” kata Emil.

Kedua, para milenial harus berilmu, dan terus mengembangkan kemampuan, atau “skills”. Menurut Emil, dengan ilmu dan keahlian yang dimi­liki, milenials memiliki daya saing. Dengan bekal ilmu juga, generasi milenials bisa menang­kal hoaks, dan pada jangkauan yang lebih luas lagi, dengan ilmu, di masa depan milenials akan jadi generasi yang tak mudah “dibodohi”.

Selanjutnya, nilai yang ke­tiga ialah berakhlak. Setelah memiliki Iman dan ilmu, para milenial pun wajib ber­akhlak.

”Banyak pintar tetapi jahat, banyak pintar tetapi julid, banyak pintar tetapi nyinyir, jadilah orang yang berakhlak, sopan santun bicara yang baik atau diam,” kata Emil. (*/ign)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *