Kamis , 22 Oktober 2020
Home / BERITA UTAMA / Penipuan Berkedok Prostitusi Online

Penipuan Berkedok Prostitusi Online

SUBANG-Penipuan berkedok prostitusi online di Subang bu­kanlah barang baru. Baru-baru ini, sumber Pasundan Ekspres sebut saja Mr. X mengungkapkan, dia pernah mencoba menga­lami hal tersebut dalam aplikasi Wechat.

Awalnya dia menyebut mengin­stal aplikasi Wechat untuk kemu­dian mencari pengguna di sekitar, melalui fitur yang disediakan di aplikasi tersebut.

“Ya iseng saja, dan memang be­jibun. Banyak banget akun-akun itu. Ka­lau saya sih yakin penipuan, ma­kanya cuma iseng saja. Soalnya minta transfer dulu,” ung­kapnya sambil melepas tawa.

Terkait harga yang ditawarkan oleh para pemilik akun tersebut Mr. X menjelaskan harganya ber­variasi, berkisar antara Rp300.000 hingga Rp500.000. “Bahkan ada yang jutaan juga untuk yang durasi waktunya lebih lama atau disebutnya dengan istilah Long Time,” tambahnya.

Hal tersebut diakui oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Subang, Aipda Nen­den Nurfatimah saat mendatangi Kantor Pasundan Ekspres untuk talkshow beberapa waktu lalu. Dia mengakui bahwa memang modus prostitusi online yang ada di aplikasi Wechat meru­pakan penipuan. “Kita sudah pernah telusuri, dan memang penipuan,” katanya.

Justru yang menurut­nya mengkhawatirkan adalah kasus kekeras­an seksual terhadap anak yang selama ini, banyak ditan­gani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak di Polres Subang .

“Medsos memang menjadi faktor pembuka ya. Dia ke­nalan lewat medsos. Baru ketemu langsung melaku­kan hubungan badan,” un­gkapnya.

Dari data yang ada, Aipda Nenden memaparkan, di Kabupaten Subang daru Januari hingga September 2020, ada sekitar 25 kasus yang ditangani Unit Per­lindungan Perempuan dan Anak Polres Subang.

“Pengawasan orang tua juga menjadi faktor pe­nyebab, rata-rata perem­puan dan anak yang men­jadi korban pada usia SMP dan SMA,” tambahnya.

Sampai saat ini, Aipda Nenden menambah­kan, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak rutin melakukan program edu­kasi ke sekolah-sekolah, terutama saat sebelum pandemi, serta melakukan kerjasama dengan dinas terkait, seperti dinas sosial dengan dinas DP2KBP3A.

“Kita bicara apa kekerasan seksual pada perempuan dan anak, hingga kita kasih sosialisasi tentang bagaima­na penanganan awal jika menemukan suatu tindak pidana kekerasan terhadap perempuan dan anak,” pungkasnya.(idr/vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *