Senin , 19 Agustus 2019
Breaking News
Home / bandung raya / Rekayasa di Kawasan Cipaganti Dinilai Tepat
JAGA JALUR: Petugas kepolisian bersama Dishub Kota Bandung saat berjaga di pertigaan Jalan Setiabudi. Rekayasa jalan tersebut resmi dipermanenkan bagi seluruh pengendara.

Rekayasa di Kawasan Cipaganti Dinilai Tepat

BANDUNG– Pemerintah Kota Bandung telah merekayasa arus lalu lintas di kawasan Sukajadi, Setiabudi, Cipaganti, dan Cihampelas. Karena masyarakat belum terbiasa, perubahan rute tersebut masih menimbulkan kemacetan di beberapa titik.

Kendati begitu, Polrestabes Bandung melaporkan bahwa terjadi peningkatan kecepatan rata-rata di ruas-ruas jalan tersebut hingga 70%.

Menurut Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia wilayah Jawa Barat, Sony Sulaksono Wibowo, kemacetan tersebut terjadi karena masyarakat pengguna jalan belum terbiasa dengan pola pergerakan yang baru. Mereka masih mengatisipasi kemacetan hanya di kawasan rekayasa saja.

“Begitu Jalan Cipaganti berubah arah, masyarakat langsung mencari alternatif di sekitar kawasan Cipaganti. Akibatnya, jalan-jalan pemukiman di antara ruas Jalan Sukajadi dan Cipaganti menjadi padat. Dan karena geometric jalan-jalan tersebut sempit, maka menjadi terkunci dan ekor hambatannya sampai masuk ke jalan kolektor,” ujar Sony yang juga Dosen Teknik Sipil ITB itu dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.

Dinas Perhubungan Kota Bandung telah memiliki data pola pergerakan kendaraan se-Bandung Raya. Data tersebut membantu pembuatan keputusan dan pengaturan rute lalu lintas baru. Berdasarkan data itu, lanjut Sony, kajian pengembangan rute alternatif dapat dibuat menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah untuk arus kendaraan yang menerus.

“Kajian ini relatif lebih mudah dengan melihat jaringan jalan utama secara keseluruhan Kota Bandung,” papar Sony yang memiliki kelompok keahlian rekayasa transportasi.

Bagian yang kedua, imbuh Sony, adalah lalu lintas yang memang menuju atau dari dalam kawasan yang direkayasa. Rute-rute alternatif dapat dikembangkan dengan memanfaatkan jalan-jalan pemukiman.

“Ini yang perlu mendapat perhatian khusus karena dampak sosialnya tidak kecil,” katanya.

Dampak itu antara lain jalan-jalan pemukiman menjadi padat oleh lalu lintas, khususnya sepeda motor. Hal itu menyebabkan resiko keselamatan menjadi krusial, khususnya pada anak-anak. Sony menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk melengkapi fasilitas traffic calm dan penyeberangan jalan.

“Sebaiknya segera dibuat fasilitas pejalan kaki yang memadai karena umumnya jalan-jalan pemukiman di sana tidak memiliki fasilitas pejalan kaki,” ujarnya.

Selain itu, Pemkot Bandung juga perlu memperbaiki dari sisi geometrik jalan, seperti penghilangan median jalan dan perbaikan sudut tikungan. Hal tersebut perlu koordinasi yang baik antara Pemkot Bandung dengan kepolisian.

“Di kawasan tersebut ada dua rumah sakit yang perlu mendapat perhatian khusus terkait dengan akses untuk kondisi darurat. Jalan akses ke rumah sakit memang sebaiknya tidak dibuat satu arah. Ini perlu koordinasi antara pihak rumah sakit dengan polantas (polisi) dan perhubungan (Dishub). Jika dimungkinkan, pintu masuk ke rumah sakit ditambah untuk memudahkan akses ke rumah sakit,” jelasnya.

Penyesuaian juga perlu dilakukan di pusat-pusat kegiatan yang berlokasi di sekitar kawasan yang direkayasa, seperti pusat perbelanjaan. Salah satunya soal jalur akses parkir dan alur masuk ke lokasi pusat aktivitas masyarakat.

Hal yang tak kalah penting juga soal jalur angkutan umum. Rekayasa lalu lintas ini juga berdampak pada rute trayek angkutan yang memanfaatkan jalan-jalan pemukiman. Sony menilai, hal ini menguntungkan para pengemudi angkot karena membuka peluang mereka untuk mendapatkan penumpang.

“Secara jarak, jalur angkutan umum mungkin akan bertambah. Namun dengan dimasukkannya trayek angkutan umum di jalan pemukiman, potensi peningkatan jumlah penumpang akan meningkat karena hal ini dapat mengurangi jarak jalan orang yang menuju jalur angkot,” tuturnya.

Sony pun mengajak masyarakat untuk melihat rekayasa lalu lintas ini sebagai upaya mengurangi kemacetan di keempat kawasan tersebut. Jalan Sukajadi, Setiabudi, Cipaganti, dan Cihampelas adalah jalan kolektor Kota Bandung bagian Barat-Utara.

Sony menyebutkan, karena fungsinya sebagai jalan kolektor, dampak sendatan yang terjadi di keempat ruas tersebut dapat mengakibatkan kemacetan di seluruh kawasan Bandung Barat, baik di bagian utara maupun ke arah selatan sampai di Jalan Pajajaran.

“Rekayasa ini adalah hal yang baik, walaupun tidak otomatis menghilangkan kemacetan di kawasan utara Bandung. Rekaasa lalu lintas ini hanyalah short term solution. Solusi kemacetan Bandung adalah tetap pada angkutan umum yang terintegrasi dan massal dengan cakupan Bandung Raya serta konsistensi penataan ruang dalam kota,” tandasnya. (mg2/drx)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *