Kamis , 27 Juni 2019
Breaking News
Home / BERITA UTAMA / Tiga WNI Korban Tragedi Mina
ENDRAYANI DEWI/JAWA POS KOORDINASI PETUGAS: Tim pengamanan haji Indonesia berkoordinasi di Armina dan Muzdalifah.

Tiga WNI Korban Tragedi Mina

Hubungan Iran dan Arab Menegang

darikita.com, BANDUNG – Inna lillahi wa Inna Ilahi rojiun. Berita duka itu pun akhirnya datang. Kabar terbaru dari Kementerian Agama (Kemenag) bahwa hasil verifikasi dan identifikasi jemaah haji korban tragedi Mina, Kamis (24/9) pagi, sudah ditemukan ada tiga jemaah haji Indonesia dinyatakan ikut menjadi korban meninggal.

ENDRAYANI DEWI/JAWA POS KOORDINASI PETUGAS: Tim pengamanan haji Indonesia berkoordinasi di Armina dan Muzdalifah.
ENDRAYANI DEWI/JAWA POS
KOORDINASI PETUGAS: Tim pengamanan haji Indonesia berkoordinasi di Armina dan Muzdalifah.

Menurut petugas Kemenag di Makkah, mereka telah dapatkan informasi sementara dari Kedubes RI di Arab Saudi ada tiga warga negara Indonesia (WNI) meninggal dunia. Mereka adalah Hamid Attuwi dari Surabaya, Saiyah asal Batam dan satu jamaah belum teridentifikasi berjenis kelamin laki-laki dari Purbolinggo.

Kasubag Informasi Haji Direktorat Penyelenggaraah Haji dan Umroh (Ditjen PHU) Kemenag, Affan Rangkuty mengaku telah menerima informasi bahwa total yang meninggal sebanyak tiga orang dan satu orang mengalami luka-luka. ”Itu semua masih diverifikasi. Kita menunggu data firm-nya pak,” kata Affan saat dikonfirmasi, kemarin (24/9).

Sampai saat ini, dari berbagai media internasional korban meninggal sudah 700-an jemaah dan ratusan luka-luka. Kebanyakan jemaah asal Afrika yang menjadi korban.

Mereka diduga terjebak di antara puluhan ribu jemaah yang berdesakan di Jalan Arab 204 untuk melontar Jumrah Aqobah, Kamis (24/9) pagi.

Yakin Ayah Jadi Korban setelah Ibu Telepon

Tragedi Mina kemarin ternyata menewaskan seorang jamaah haji dari Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dia adalah Sumaniro, 48, dari Desa Talkandang, Kecamatan Kotaanyar. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, Sumaniro masuk kelompok terbang (kloter) 48 yang berangkat dari embarkasi Juanda, Surabaya.

Kepastian Sumaniro menjadi korban tragedi itu disampaikan anaknya, Reni Ayu Rahmawati, 22. Dia menceritakan, sekitar pukul 14.00 keluarganya menerima panggilan telepon dari orang tak dikenal. Si penelepon memberitahukan bahwa bapak Reni sudah almarhum. ”Teleponnya cuma sebentar, tidak tahu dari siapa. Tapi, saat ditelepon balik, tidak bisa,” tutur Reni.

Reni semakin yakin bahwa sang ayah yang biasa dipanggil Nero itu menjadi korban saat ibunya, Murtiningsih, yang kebetulan berangkat ke Tanah Suci bersama korban, menyusul menelepon kemarin sore. Ibunya meminta doa dari keluarga. Sebab, sang bapak dibawa ambulans gara-gara insiden di Mina tersebut. ”Saya telepon lagi ibu, masih belum bisa. Sekarang belum ada kabar lagi dari sana (Arab Saudi, Red),” terang Reni.

Nero sehari-hari berprofesi sebagai PNS guru SD. Korban memiliki dua putri. Tadi malam di rumah duka warga mengaji bersama. Kebetulan, tiap malam di rumah itu diadakan pengajian bersama untuk mendoakan keselamatan Nero dan Murtiningsih.

Kasi Haji dan Umrah Kabupaten Probolinggo Muchlason menyatakan sudah mendapat informasi bahwa ada jamaah haji dari Desa Talkandang yang meninggal dunia. ”Tapi, belum ada info pasti apakah meninggal karena kejadian di Mina atau meninggal dunia karena sakit,” katanya saat dihubungi Radar Bromo tadi malam, pukul 21.00.

Iran Salahkan Saudi

Tragedi Mina yang terjadi kemarin (24/9) kembali memanaskan hubungan Arab Saudi dan Iran. Teheran langsung menyalahkan Riyadh atas insiden yang menyebabkan 43 jamaah haji asal Iran meninggal itu.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian menyebut Saudi telah lalai dan gagal memberikan jaminan keamanan serta keamanan pada para jamaah. Apalagi, Jumat dua pekan lalu (11/9), sebuah crane juga ambruk menimpa Masjidilharam yang menyebabkan lebih dari 100 jamaah wafat.

”Kementerian Luar Negeri akan memanggil perwakilan diplomatik Saudi di Teheran (untuk menyampaikan protes),” kata Abdollahian.

Said Ohadi, ketua organisasi penyelenggara haji Iran, juga menuntut Riyadh memberikan penjelasan rinci atas terjadinya tragedi tersebut. ”Ini sungguh tragis,” ujarnya di Teheran kemarin.

Iran dan Arab Saudi rutin terlibat dalam berbagai ketegangan politik. Sejarahnya bahkan menjulur panjang ke berbagai dekade silam. Mengutip Iranwire, pada 1943, seorang jamaah asal Iran dipenggal kepalanya saat berhaji karena dianggap mengotori rumah Tuhan.

Iran membalas tindakan itu dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan Saudi selama empat tahun. Juga, memboikot pelaksaaan haji dengan tak mengirimkan jamaah.

April lalu, ulama terkemuka Iran Ayatollah Nasser Makarem Shirazi juga sempat mengampanyekan pemboikotan ibadah haji. Gara-garanya, pelecehan seksual yang dilakukan dua polisi Saudi kepada dua remaja Iran di Bandara Jeddah.

Di tragedi kemarin, sedikitnya 717 jamaah meninggal dunia akibat berdesak-desakan saat hendak melakukan ritual lempar jumroh di Mina.

Namun, Menteri Kesehatan Saudi Khaled al-Falih membantah tudingan tersebut. Dalam wawancara dengan stasiun televisi El-Ekhbariya, dia menyebut ketidakdisiplinan jamaah haji sebagai penyebab. ”Banyak jamaah yang tidak menaati jadwal. Mereka tidak patuh pada peraturan,” ujarnya.

Saudi berjanji akan menyelidiki tragedi tersebut hingga tuntas. ”Kami akan berusaha melakukan penyelidikan dengan cepat dan transparan,” janji Al-Falih.

Kemarin Saudi langsung menggandeng kedutaan besar-kedutaan besar asing untuk mempercepat proses identifikasi korban. Terpisah, Komite Pusat Haji memperkuat pernyataan al-Falih dengan menyatakan bahwa tragedi maut itu dipicu oleh ulah sekelompok jamaah asal Afrika.

”Desak-desakan itu terjadi karena jamaah asal Afrika tidak tertib,” ungkap Pangeran Khaled al-Faisal, ketua komite pusat haji, dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Arabiya.

Dalam proses evakuasi, Saudi mengerahkan sedikitnya 220 ambulans. Juru Bicara Badan Pertahanan Sipil Saudi mengatakan, sekitar 4.000 personel tim rescue terlibat dalam evakuasi di dekat Jembatan Jamarat itu.

Beberapa saat sebelum tragedi itu menghiasi media online, Kementerian Pertahanan Saudi sempat mengunggah cuitan tentang kondisi berdesak-desakan di Mina itu melalui akun Twitter resminya. ”Kami sedang berusaha mengurasi kepadatan di Mina,” cuit kementerian tersebut.

Tidak lama kemudian, sekitar pukul 09.00 waktu setempat, terjadilah tragedi mengenaskan tersebut. Salah seorang jamaah asal Sudan yang luput dari tragedi mengatakan bahwa penyelenggaraan haji kali ini merupakan yang terburuk. Sebelumnya, dia sudah tiga kali naik haji.

”Jamaah sudah kelelahan dan dehidrasi sebelum mencapai tujuan,” ujarnya. Keterbatasan fisik itulah, menurut dia, yang ikut memicu terjadinya insiden desak-desakan.

Tragedi menjelang ritual lempar jumroh di Mina bukan baru kali ini terjadi. Pada Januari 2006, misalnya, sebanyak 364 jamaah meninggal dunia saat melempar jumroh. Penyebabnya masih sama, berdesak-desakan. Tahun ini, ada sedikitnya 2 juta jamaah haji dari seluruh dunia yang menunaikan ibadah di Saudi.

Pasca tragedi itu, pemerintah Saudi membangun tiga pilar di dekat lokasi pelemparan jumroh. Selain itu, pemerintah juga membangun jembatan lima lantai untuk mengurai kepadatan di area tersebut.

Saat itu, pembangunan fasilitas haji tersebut menelan dana sekitar USD 1,2 miliar (sekitar Rp 17,7 triliun). Kini, fasilitas itu sudah ditambahi dengan banyak pintu keluar, kamera CCTV dan petugas keamanan.

Tragedi paling fatal di Mina terjadi pada 1990 lalu. Saat itu, tidak kurang dari 1.492 jamaah meninggal dunia di Terowongan Mina. Sebagian besar korban adalah jamaah asal Asia, termasuk Indonesia.

Utamakan Keselamatan, Pahala Urusan Allah

Masa melontar jumrah memang cukup krusial dalam pelaksanaan haji. Hampir semua insiden fatal selama masa haji, terjadi ketika musim melontar jumrah Aqobah, Ula, dan Wusto. Masa melontar jumlah masih berjalan hingga Minggu (27/9) nanti, jamaah diminta waspada.

Pengamat haji dari UIN Syarif Hidayatullah Dadi Darmadi mengatakan, sehari sebelum melontar jumrah jamaah mendapatkan selebaran petunjuk melontar jumrah. Selebaran petunjuk ini dikhususkan bagi jamaah haji dari kawasan Asia, termasuk Indonesia.

”Salah satu imbauannya adalah memilih jam melontar jumrah ketika sedang sepi. Seperti sore atau malam hari,” katanya kemarin. Namun sayangnya, dosen yang berhaji pada 2007 itu mengatakan masih banyak jamaah haji Indonesia yang nekat memilih melontar jumrah pada pagi atau siang hari.

Alasannya adalah ada dalil yang menyebutkan bahwa waktu afdal melontar jumrah adalah pada pagi dan malam hari. Namun Dadi mengatakan urusan afdal atau pahala dipasrahkan kepada Allah saja. ”Jamaah lebih baik menomorsatukan keselamatan,” ujarnya.

Dadi menuturkan saat berhaji dulu rombongannya terpecah menjadi dua. Pecahan pertama nekat melontar jumrah pada pagi hari. Akibatnya ada satu jamaah yang tersesat, tetapi akhirnya ditemukan. Sedangkan pecahan kedua, memilih melontar jumrah malam hari. ”Saya memilih yang malam hari juga,” tuturnya.

Kondisi pada siang hari, jalan yang menghubungkan antara komplek tenda di Mina dengan Jamarat, tempat melontar jumrah, sangat padat sekali. Jamaah hanya bisa berjalan berimpit-impitan. Keadaan bisa fatal ketika ada jamaah dari belakang yang tiba-tiba maju dengan berlari atau jalan cepat. Karena tidak sigap, jamaah di depannya bisa roboh dan berpotensi terinjak-injak.

Sedangkan pada malam hari, kondisi jalan penghubung antara perkemahan di Mina dengan Jamarat sedikit lebih longgar. Kondisi jalan raya yang agak longgar, bisa membuat jamaah berjalan cepat atau bahkan berlari kecil menuju jamarat. Dia berharap kecelakaan di Mina kemarin menjadi pelajaran penting buat jamaah haji Indonesia.(mas/JPNN/c11/kim/AP/AFP/CNN/alarabiya/aljazeera/hep/rie)

Check Also

Jamin Pelaksanaan Mudik Aman

CIMAHI – Untuk membe­rikan rasa aman dan nyaman bagi pengendara yang akan mudik melintasi jalur Kota …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *